Global

Dambakan Kursi Roda, Cacat Tak Halangi Arya Subakti Meraih Prestasi

(Dutabalinews.com),Cacat sejak lahir membuat masa kecil I Gusti Ketut Arya tak seceria anak-anak usia sebayanya. Bahkan ia harus terlambat bisa sekolah.

Di usianya yang kini 12 tahun, putra pasangan I Gusti Sujana dan Ni Made Sulastri ini baru duduk di kelas 3 SD di tempat kelahirannya Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Kab. Buleleng – Bali. Namun penyandang disabilitas ini pantang menyerah meski lahir di tengah keluarga tak mampu. Ayahnya hanya seorang petani miskin. Namun juga sebagai seorang seniman suling sehingga pernah pentas ke Eropa bersama grup seninya (Seni Gamelan Bali).

“Rupanya bakat seni orangtuanya turun ke Arya sehingga sejak kecil ia sudah bisa melukis dan mahir memainkan gamelan,” jelas Eka Tirtayana, Rabu (1/5/2019) dari Buleleng Social Community yang kerap mendampingi Arya. Bertepatan pada May Day ini, Eka bersama tim mengantar Arya ke Jakarta yang akan mengisi acara Hitam Putih di salah satu TV nasional.

Arya merupakan anak ke-4 dari 4 bersaudara. Saat ibunya mengandung, dia tidak tahu kalau sedang hamil sampai usia kandungan tua. Dan ketika cek ke dokter ketahuan hamil dan 2 hari kemudian melahirkan. Ortu Arya sangat sedih ketika mengetahui keadaan Arya saat lahir.

Meski menyandang disabilitas, Arya di sekolahnya terbilang
anak yang cerdas. Dia disayangi oleh teman-temannya. Dia cepat nangkap soal pelajaran. Dulu waktu kursi rodanya masih bagus dia selalu ke sekolah sendiri. Bapaknya selalu dimarahinya jika ketahuan mengikutinya dari belakang. “Intinya dia ingin mandiri,” jelas Eka Tirtawan. Namun kini Arya kesulitan karena kursi rodanya rusak. Orangtuanya tak mampu memperbaikinya.

Arya mengisi kesehariannya dengan melukis walau tidak pernah kursus melukis. Lukisannya dia jual untuk membeli keperluan sekolah. Namun ia mengaku tak bisa maksimal melukis, karena keterbatasan peralatan. Semua alat lukis merupakan sumbangan dari orang yang peduli.
Selain melukis Arya juga suka seni. Bocah ini bisa bermain musik gamelan traditional Bali.

Kepada orangtuanya ia berharap bisa terus melanjutkan sekolahnya meski dengan kondisi tidak normal. Kini yang menjadi harapannya, ia bisa memperbaiki kursi rodanya yang rusak. Sebab setelah kursi rodanya rusak, ia semakin sulit melakukan aktivitasnya. (bas)

Berikan Komentar