Gebyar Budaya SMP PGRI 2 Denpasar, Dari Ribuan Sate, “Pejati” hingga Jamu Kesehatan

(Dutabalinews.com),Gebyar Budaya, ajang kegiatan pelestarian seni dan budaya lokal Bali, kembali digelar Jumat (10/5/2019), di SMP PGRI 2 Denpasar.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan jelang Hari Saraswati ini diikuti seluruh siswa-siswi dengan menampilkan aneka kreasi mereka mulai dari membuat sate, lawar, jajan, hingga keterampilan membuat sarana upacara seperti pejati, canang termasuk kelatkat.

“Siswa juga ada yang membuat aneka jamu dari bahan lokal yang sangat bermanfaat bagi kesehatan serta kelak bisa menjadi peluang usaha,” ujar Kepala SMP PGRI 2 Denpasar Dr. Drs. Gede Wenten Aryasuda,MPd. di sela-sela kegiatan gebyar yang berlangsung meriah itu.

Dalam Gebyar Budaya kali ini menurut Dr. Wenten Aryasuda ada yang memang khusus ditampilkan yakni membuat lawar dimana ada kolaborasi antara siswa dan siswi dalam proses pembuatannya. “Jadi anak laki-laki dan perempuan bergabung saling membantu dalam membuat makanan khas Bali ini,” tambah Wenten.

Yang juga tak kalah menarik, di ajang ini, puluhan siswa membuat ribuan aneka sate. “Sekitar 2 ribu tusuk sate dibuat siswa dengan racikan bahan dan bumbu yang berbeda. Semua bahan disiapkan masing-masing kelompok secara swadaya,” tambah Wenten.

Dikatakan SMP PGRI 2 yang berdiri sejak tahun 1976 itu, selain rutin melaksanakan Gebyar Budaya jelang Hari Saraswati, juga kegiatan sejenis dilakukan saat menyambut peringatan HUT Kota Denpasar.

“Kita bukan hanya mengajak siswa melestarikan bidang seni dan budaya, juga mengikuti perkembangan iptek seperti lomba komputer (GCC-Grisda Computer Championship) antar siswa se Kota Denpasar yang direncanakan berlangsung Juni mendatang,” ujar Ketua PGRI Provinsi Bali ini.

Dr. Wenten Aryasuda berharap dari program ini ke depannya bisa membentuk sekaligus sebagai penguatan karakter siswa. “Kegiatan unggulan ini juga untuk membangun dan membangkitkan bakat serta kemampuan siswa termasuk dalam hal seni dan budaya. Sehingga orang Bali tak kehilangan kearifan lokalnya,” jelasnya. (bas)

Baca Juga :   Setelah 40 Tahun, Ribuan Krama Adat Kerobokan Saksikan "Mesiat Tipat-Bantal"

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar