Saat Rumah-Kebun Menyatu Berkat EM4, Mampu Penuhi Kebutuhan Sehari-hari

(Dutabalinews.com),Rumahnya tidak begitu besar di bangun di atas areal seluas 1.200 meter persegi yang menyatu dengan taman, kolam renang dan kebun, sekaligus kandang untuk memelihara sejumlah ternak ayam petelur dan burung kesayangannya.

Meski dedaunan berjatuhan dari sejumlah pohon yang tumbuh rindang, pekarangan rumah itu tampak bersih dan lestari. Itulah tempat tinggal Touru (69), seorang warga negara Jepang bersama istrinya Nyonya Sasi (52) di pemukiman elit kawasan Niti Mandala Renon, Denpasar sejak tahun 1995 atau 26 tahun silam.

Pasangan suami-istri itu keseharian mengisi waktunya untuk kegiatan pertanian organik pada lahan seluas 12 are, dengan tujuan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, kalau ada lebih disumbangkan kepada masyarakat sekitarnya. Pasangan suami-istri yang dikaruniai seorang putra, Amane yang sedang menyelesaikan pendidikan di sebuah perguruan tinggi di Jepang, dalam kegiatan pertanian skala kecil di pekarangan rumah rumah tangga itu menggunakan pupuk organik Bokashi Kotaku dan pupuk cair EM4 untuk menyuburkan berbagai jenis tanaman.

“Sejak dari Jepang saya sudah mengetahui di Bali sudah ada yang produksi pupuk ramah lingkungan dalam kemasan EM4,” ujar Touru yang rutin menggunakan pupuk organik Bokashi Kotaku dan EM4. Sedangkan untuk mengatasi limbah dapur juga menggunakan EM4 limbah sehingga saluran pembuangan limbah dapur tidak menimbulkan bau.

Ia mengaku sejak pindah dari Jepang dan akhirnya menetap di Bali sudah mengenal sosok Pak Oles yang juga Direktur Utama PT Karya Pak Oles yang memproduksi pupuk ramah lingkungan Bokashi Kotaku, pupuk cair EM4 untuk pertanian, peternakan, perikanan dan limbah.

Pria energik yang sangat ramah dengan lawan bicaranya dan pasif berbahasa Indonesia itu juga menggunakan EM4 untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos sehingga lingkungan tempat tinggalnya itu menjadi bersih, sejuk dan lestari, karena dikitari berbagai jenis pepohonan penghasil buah yang bisa dikonsumsi.
Lahan seluas 12 are yang dibelinya dalam dua tahap dalam satu arealnya itu ditata sedemikian rupa untuk rumah tempat tinggal, pengembangan sayur mayur, perkebunan serta kolam untuk berenang dan pengembangan perikanan. Kolam yang berisi ikan nila tampak begitu besar-besar dengan ratusan ekor anaknya terus bergerak sambil mencari makanan di sela-sela tanaman kangkung.
Sampah dapur dan sampah organik seperti kulit buah sumangka kadang kala dibuang begitu saja ke kolam sebagai makanan ikan.

Demikian pula setiap sampah organik dari dapur, setelah dipilah, langsung ditampung dalam satu ember, lalu diaplikasikan dengan EM4 untuk diolah menjadi pupuk. “Hampir semua sampah diolah menjadi pupuk sehingga tidak ada membuang sampah ke luar rumah, walaupun ada hanya berupa plastik dan itupun persentasenya sangat kecil,” ujar Touru.

Dengan mengembangkan sayur mayur, peternakan ayam dan perikanan di pekarangan mampu menekan pengeluaran sehar-hari untuk konsumsi. Semua keperluan dapur selama ini dipetik dari kebun, sehingga pengeluaran dapat ditekan. “Kadang produksi dari kebun sering melebihi kebutuhan sehingga disumbangkan kepada tetangga,” ujar Nyonya Sasi yang mengaku tidak pernah menjual hasil kebun karena kasihan produk organik dijual murah. (ist)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar