Mengenang Hari Lahirnya “Wartawan Agung” Bung Karno

BANYAK yang tak tahu, kalau presiden pertama RI Ir. Soekarno juga aktif dalam dunia jurnalistik. Bung Karno begitu kerap sang presiden disapa bahkan sempat menjadi pimpinan media di Jakarta pada era tahun 1940-an.

Orang selama ini lebih mengenal sosok Bung Karno sebagai Presiden RI, Bapak Bangsa, Proklamator dan sebutan lainnya. “Padahal beliau adalah juga Tu Kakyang-nya wartawan. Bahkan dalam rekam jejaknya Bung Karno dinobatkan sebagai Wartawan Agung karena peran dan jasanya yang besar dalam dunia pers,” jelas Founding Father Museum Agung Bung Karno Gus Marhaen saat ditemui wartawan, Sabtu (6/6/2020) bertepatan dengan Hari Lahirnya Bung Karno.

Dalam kegiatan di Museum Agung Bung Karno yang mengoleksi jutaan foto, lukisan dan tulisan secara lengkap Bung Karno itu, puluhan wartawan yang hadir sempat melakukan pemotongan tumpeng untuk mengenang hari lahir sang Proklamator.

Para wartawan sengaja memilih tempat di Museum Agung Bung Karno yang menjadi salah satu sumber referensi sebab di museum berlantai empat yang luas ini begitu lengkap menyimpan berbagai koleksi peninggalan Putra Sang Fajar ini.

Baca Juga :   Update Penanggulangan Covid-19 di Bali: Kasus Meninggal Bertambah Tiga, Sembuh 112 Orang

Gus Marhaen

Gus Marhaen juga mengutip pesan tokoh bangsa kharismatik ini, bahwa wartawan bisa membuktikan harus memiliki kualitas dan integritas. Dengan pesan tersebut, Gus Marhaen mengajak kalangan wartawan terus meningkatkan kualitas dan mendalami sejarah bangsa.

Sebab dengan pemahaman tersebut, maka wartawan tidak saja bisa menyajikan informasi yang lengkap, juga ikut dalam memajukan pembangunan dengan kualitasnya yang tak kalah dengan tokoh-tokoh lainnya. “Kita tunjukkan, diri kita adalah wartawan yang berkualitas dan mampu berbuat yang terbaik untuk bangsa ini,” pesan Gus Marhaen.

Di sisi lain, Gus Marhaen mengingatkan pentingnya mendalami sastra sebagai landasan dalam berpikir dan berkarya. “Harus ada bukti dan fakta apa yang disampaikan. Bagaimana kita bicara soal sejarah, kalau tak didasari sastra sebagai bukti,” tambahnya penuh semangat. (bas)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar