Dr. Mangku Pastika: Egosektoral Sebabkan Sampah Tak Pernah Tuntas

“Sampah di Bali sampai saat ini belum bisa tertangani dengan baik. Bahkan kini menjadi ancaman karena TPA Suwung daya tampungnya makin terbatas”.

(Dutabalinews.com), Anggota DPD RI Dr. Made Mangku Pastika mengatakan banyak yang skeptis tentang masalah
sampah. Padahal dampak pengelolaan sampah yang tidak benar sangat krusial.

“Masalah sampah terlalu besar dan kompleks jika ditangani kelompok-kelompok kecil yang selama ini peduli dengan sampah ini. Juga adanya egosektoral menyebabkan sampah tak pernah tuntas,” ujar Mangku Pastika saat Reses penyerapan aspirasi secara Vidcon bertajuk “Pengelolaan Sampah sebagai Upaya Mewujudkan Visi Misi Pemerintah Provinsi Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, Senin (19/10).

Vidcon yang berlangsung dua jam dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara didampingi Ketut Ngastawa dan Nyan Wiratmaja juga menghadirkan narasumber Kepala UPTD Pengelolaan Sampah Dinas Kehutanan Provinsi Bali Ni Made Armadi, SP. MSi., I Made Dwi Arbani,S.TP. M.Si. selaku Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3, Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup serta Ir. Ni Made Ayu
Widiasari selaku Ketua Pokja Pengelolaan Sampah Prov. Bali.

Ayu Widiasari

Padahal di sejumlah negara sampah justru jadi berkah yang mendatangkan uang. “Di Malaysia sampah itu jadi duit. Sebab pengelolanya dapat “tipping fee” yang lumayan besar sampai 35 dolar. Juga listrik yang dihasilkan dibeli 15 sen per kWh. Sementara di sini hanya 6 sen dolar,” ujar Mangku Pastika.

Mantan Gubernur Bali dua periode ini mengatakan sebenarnya Bali bisa seperti Malaysia. Namun adanya egosektoral menyebabkan sampah tak bisa dikelola dengan maksimal. “Ada sekitar 50 investor yang mau kelola sampah di TPA jadi listrik. Karena terbentur aturan dan kewenangan sehingga semuanya batal,” tandas mantan Kapolda Bali ini.

Sementara Ni Made Ayu Widiasari mengatakan diperlukan lebih banyak edukasi kepada masyarakat agar tak membuang sampah sembarangan serta bisa turut mengelola sampah di lingkungannya, dimulai dari hulu. Sebab kalau hulunya bersih, maka hilirnya juga bersih.

Sampah yang sampai ke TPA Suwung juga cukup tinggi dan lahan yang tersedia makin terbatas. Karena itu ia berharap pemerintah pusat bisa segera membantu Bali untuk turut menangani persoalan sampah. “Saya berharap Pak Mangku Pastika bisa membantu masalah sampah ini di pusat,” ujarnya.

Baca Juga :   BI Dorong Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren di Jembrana
Ni Made Armadi

Kepala UPTD Pengelolaan Sampah Dinas Kehutanan Provinsi Bali Ni Made Armadi, SP. MSi. mengatakan sampah ini masalah klasik dan tak ada habis-habisnya dan sampai saat ini belum bisa terselesaikan.

Di TPA Regional Suwung setiap hari telah dilakukan penataan dengan alat berat. Namun sampah terus masuk ke TPA ini. Untuk itu diharapkan tiap daerah juga memanfaatkan TPA yang ada di wilayahnya. Jadi tak semua masuk ke TPA Suwung.

Sementara itu Dwi Arbani mengatakan penting adanya penanganan awal sampah di hulu. Untuk itu peran
desa adat bersama kelurahan dan desa (dinas) penting dalam penanganan sampah. “Kalau desa bersih maka kota akan bersih dan otomatis Bali juga bersih” jelasnya.

Dwi mengakui karena keterbatasan anggaran sehingga pengelolaan sampah belum optimal. Sampah tetap menumpuk di TPA. Volume timbulan sampah di Provinsi Bali per tahunnya mencapai 973.315,05 ton.

Di sisi lain dalam reses tersebut mengemuka pentingnya masalah anggaran bisa diselesaikan. Sebab untuk penanganan masalah sampah ini perlu dana yang besar. Ibaratnya kalau mau bikin cantik, harus ada anggaran kosmetiknya. (bas)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar