​Peluncuran SMESCO Hub Timur, Investor Bisa Melihat Langsung UKM Potensial untuk Menerima Investasi

(Dutabalinews.com),Smesco Indonesia bersama Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) meluncurkan Smesco Hub Timur di kawasan Pasar Nusa Dua, Bali, Sabtu (1/10). Smesco Hub Timur ini merupakan program inisiatif yang bertujuan sebagai investment hub yang dilengkapi SMEs Investment Dashboard, yaitu aplikasi sistem informasi pendataan UKM, riset (Business Intelligence), monitoring, dan evaluasi untuk para UKM seluruh Indonesia, utamanya Indonesia bagian Timur.

Dalam sambutannya, Leonard Theosabrata, Direktur Utama Smesco Indonesia, menyampaikan harapan serta apresiasinya. “Di SMESCO Hub Timur, para investor dapat melihat langsung berbagai jenis UKM yang potensial untuk menerima investasi, sehingga para pelaku usaha dapat meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Sigi yang menjadi pemkab pertama yang menggunakan Smesco Hub Timur ini untuk membuka peluang kolaborasi investasi hijau melalui dialog yang kita adakan di sore hari ini,” jelasnya.

Aktivitas perdana yang dilakukan di lokasi Smesco Hub Timur setelah diluncurkan adalah berkolaborasi dengan LTKL (Lingkar Temu Kabupaten Lestari), Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), dan Jurisdiction Collective Action Forum (JCAF) mengadakan Dialog Investasi Indonesia Timur pada Sabtu, 1 Oktober 2022.

Dialog ini membahas tentang peluang investasi lestari untuk daerah-daerah yang berada di Indonesia bagian timur. Tiza Mafira, Climate Policy Initiative Indonesia, memberikan skema ekonomi alternatif yang ramah lingkungan dan ramah sosial, lengkap dengan daftar pendanaan dan investasi pendukung yang bisa diakses. “Ekonomi yang berdaya lenting adalah yang dapat menyesuaikan keadaan terhadap bencana dan tetap berkelanjutan. Untuk mewujudkan program yang berkelanjutan, penting menjodohkan dengan pasar dan pendanaan.”

Dialog yang bertajuk Portfolio Jurisdiksi Komoditas Kakao dan Bambu untuk Ekonomi Tangguh Bencana ini menghadirkan inisiatif baik yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sigi untuk mendorong masuknya investasi lestari yang tangguh bencana. Ragam upaya mulai dari kebijakan, perencanaan, dan pendanaan difokuskan pada menciptakan kondisi pemungkin untuk hal tersebut. Salah satu kebijakan yang dilakukan adalah Peraturan Daerah Sigi Hijau.

Samuel Yansen Pongi, Wakil Bupati Sigi, menjelaskan mengapa hal ini penting bagi Kabupaten Sigi. “Hampir 75 persen wilayah Sigi adalah kawasan hutan dan sisanya digunakan untuk kawasan budidaya. Oleh karena itu, penting bagi Kabupaten Sigi untuk membuktikan bahwa ada skema investasi yang tetap menjaga hutan kami dan masyarakat juga sejahtera. Pemerintah Kabupaten Sigi bersama dengan Cocoa Sustainability Partnership (CSP), PisAgro dan LTKL bersama-sama untuk mewujudkan contoh nyata melalui portofolio investasi berbasis yurisdiksi dengan menggunakan komoditas kakao,” ujarnya.

Baca Juga :   Pompa Semangat Pegawai, Pegadaian Denpasar Datangkan Motivator Aqua Dwipayana

Selain komoditas kakao yang dikembangkan untuk membangun ekonomi kerakyatan tersebut, Kabupaten Sigi juga mengembangkan komoditas bambu yang memiliki manfaat untuk mengatasi bencana alam banjir. Bambu menjadi tanaman yang mampu menahan air dan material dari sungai, sekaligus berfungsi untuk meningkatkan kualitas lingkungan utamanya daerah aliran sungai.

“Pemerintah Sigi menjalin kerja sama dengan Yayasan Bambu Lestari dalam rangka mewujudkan salah satu program Sigi Hijau, yaitu mengupayakan pengelolaan dan memperbanyak menanam pohon bambu untuk ketangguhan bencana. Program sejuta bambu untuk cegah banjir ini juga melibatkan masyarakat agar berpartisipasi aktif demi terwujudnya program tersebut,” ujar Afit Lamakarte, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Sigi.

Menciptakan ragam kondisi pemungkin untuk investasi hijau dan ekonomi yang tangguh bencana untuk bisa masuk ke dalam wilayah jurisdiksi Kabupaten Sigi dengan bantuan dari multipihak telah dan akan terus dilakukan. Termasuk memastikan kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Sigi yang menjadi pelaku utama, antara lain petani, pekebun, masyarakat adat, kaum muda, kelompok perempuan dan anak. Sehingga siasat pemulihan ekonomi pasca bencana, alam dan non-alam, yang digaungkan oleh pemerintah pusat dapat terwujud di tingkat kabupaten.

Dalam kesempatan dialog ini, diluncurkan Festival Lestari kelima yang akan diselenggarakan pada 2023 dengan tuan rumah Kabupaten Sigi. Festival ini salah satu pintu masuk dan wadah promosi pembangunan lestari Kabupaten Sigi. Seluruh program, inisiatif baik, dan kearifan lokal yang kita miliki, akan  ditampilkan dalam festival. Festival Lestari kelima diharapkan dapat menggaet lebih banyak lagi mitra pembangunan di tingkat lokal, nasional, dan international untuk gotong royong membangun Sigi dan kabupaten anggota LTKL lainnya. (ist)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar