​Pameran “Indonesia The Land of Art” di The Apurva Kempinski, Harga Lukisan Tergantung  Kesepakatan

(Dutabalinews.com), Seniman (pelukis) tak perlu khawatir dengan kemajuan digitalisasi. Semua tergantung waktu. Mana yang akan unggul dan yang akan mati waktulah menentukan. Seni lukis bisa menjadi aset. Tanpa ada galeri dan pameran, seni akan stag.

Demikian mengemuka dalam diskusi serangkaian pembukaan pameran lukisan dengan tema Art Talk ‘Seni Lukis, Bisnis dan Tantangan di Masa Depan’ di The Apurva Kempinski Bali, Jumat (8/9) malam.

Diskusi yang dipandu Abdes Prestaka (Kita Art Friends) menghadirkan narasumber Dedy Sufriadi (seniman), Dicky Takndare (seniman), Rizki Zaelani (kurator), Savitri Sastrawan (kurator) dan Nicolaus Kiswanto (pebisnis seni).

Seniman Dedy Sufriandi mengatakan ‘Dulu ada pertanyaan, apa bisa hidup dengan seni’. “Kita tak jual seni, tapi pencitraan. Kita butuh ekosistem, galery dan kurator. Kalau harga tergantung  kesepakatan,” ujarnya.

Ditegaskan harga itu ditentukan oleh ekosistem. Seniman. umumnya sulit menentukan harga karyanya sehingga perlu ekosistem. Namun Dedy menegaskan perkembangan seni rupa di Indonesia sangat baik.

Sementara pebisnis seni Nicolaus Kiswanto mengatakan seni itu netral, tapi ada di posisi tersier. Seni bisa masuk mana saja. “Jadi jangan bandingkan seni dengan kebutuhan primer. Melukis, belum tentu laku hari itu. Jadi perlu waktu. Harus ada kejeniusan seniman,” tambah pemilik sejumlah galery ini optimis.

Seniman Dicky Takndare menjelaskan seni itu merupakan refleksi masyarakat (seniman). Kurator Savitri Sastrawan mengatakan seni itu semacam wadah yang bisa menjembatani ekspresi baik itu yang ringan maupun berat.

Terkait masa depan seni dikatakan ada seni yang sangat komersil juga ada yang sosial. Rizki Zaelani (kurator) menambahkan seni seni adalah sebuah relasi. Seni menyampaikan sesuatu yang universal. Soal price, orang akan tanya harga, bukan nilainya (value). Jadi harus rasional.

Sementara Director of Marketing and Communications The Apurva Kempinski Bali Melody Siagian mengatakan dengan program Powerful Indonesia, The Apurva Kempinski Bali berkolaborasi dengan partner-partner lainnya untuk mewujudkan misi mengangkat kekuatan 5 pilar yang diusung dalam kampanye ini.

Bersama Kita Art Friends, The Apurva Kempinski Bali menggelar pameran “Indonesia The Land of Art” selama 3 bulan, menghadirkan 4 seniman setiap bulan. Total ada 12 seniman, plus ada karya-karya masterpiece dari maestro Indonesia, Hendra Gunawan, Nuraeni HG dan Made Wianta.

Baca Juga :   Wali Kota Apresiasi Program Denpasar Kota Sehat Tanpa Asap Rokok

“Sore ini, kita akan melakukan acara pembukaan seri September yang menghadirkan art studio dari Dedy Sufriadi, Dicky Takndare, Ida Bagus Indra dan NPAAW. Akan ada artist in residency, yaitu Dicky Takndare dan NPAAW yang akan berkarya langsung menghasilkan lukisan-lukisan, berinteraksi langsung dengan dinamika di Pendopo Lobby,” jelasnya. Sebelumnya, Kita Art Friends dan The Apurva Kempinski Bali mengadakan diskusi ini, dengan tema Seni Lukis, Bisnis dan Tantangan di Masa Depan. (ist)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar