Global

‘Pesta Renjana’ Museum Gunarsa Luncurkan Buku April Artison 

(Dutabalinews.com),Seniman teater April Artison meluncurkan buku kumpulan puisi berjudul “Renjana” di Museum Gunarsa, Denpasar, Bali, Sabtu (9/9/2023) malam. Peluncuran buku ini ditandai dengan acara “Pesta Renjana” yang dimeriahkan oleh sejumlah seniman, seperti seniman teater Moch Satrio Welang, penyair Achmad Obe Marzuki, seniman musikalisasi puisi Heri Windi Anggara ( kelompok Sekali Pentas), seniman Kodo Guang, Komunitas Teater Sastra Lentera, dan lain-lain.

Moch Satrio Welang tampilkan tari teatrikal yang merupakan tribute untuk maestro seni rupa lukis Nyoman Gunarsa, yang berpengaruh tidak hanya di Indonesia, namun dunia Internasional. Tari teatrikal Satrio Welang dengan aktor  pendukung Reza Ramadhan ini diiringi musik pembuka Petrasalira yang menyayat besutan Artmoshcestra, seniman Malang.

Satrio Welang membacakan dua puisi April Artison berjudul ‘Hilang’ dan  ‘Tentang Penantian.’ Puisi yang kedua ini sengaja dipilihnya karena mengungkapkan kerinduan dan rasa kehilangan mendalam April Artison atas kepergian sosok maestro Nyoman Gunarsa yang telah berpulang di 2017 lalu.

Penyair Achmad Obe Marzuki pun tampil membacakan puisi dengan gaya performing art poem, berkolaborasi dengan April Artison sendiri, sang penulis Buku Renjana. Mereka membawakan puisi berjudul ‘Takdir’  didukung siswa-siswi dari komunitas Sastra Lentera dengan konsep pembacaan kolosal.

Heri Windi Anggara , seniman muda dunia musikalisasi puisi di Bali pun tampil menawan bersama kelompok seninya ‘Sekali Pentas’ yang menyanyikan dua puisi April Artison berjudul ‘Belenggu Para Iblis’ dan ‘Rayuan Sang Iblis’. Kelompok sekali Pentas yang kerap tampil di acara seni dan budaya ini beranggotakan Heri Windi Anggara, Yoga Anugraha, Colby Aria dan Kadek Mani.

Acara yang dibuka oleh penampilan musikalisasi apik oleh komunitas Teater Sastra Lentera ini dilanjutkan dengan sesi diskusi buku yang dimoderatori oleh Penyair Bali, Wayan Jengki Sunarta. Diskusi hangat ini menghadirkan Dosen Filsafat Tommy F Awuy, seniman IB Widiasa Keniten, dan Dr. Made Sujaya sebagai pembicara.

Dalam puisi-puisi “Renjana”, April Artison mengungkapkan berbagai tema yang berangkat dari dirinya, seperti tubuh, rindu, kehidupan, cinta, kematian, dan pencarian jati diri. Puisi-puisinya yang sarat dengan metafora dan simbol yang memancarkan kedalaman emosi dan pemikirannya.

Baca Juga :   Kapolda Bali Resmikan Sentra Pengaduan Masyarakat Terintegrasi

April Artison mengungkapkan, “ Saya bersyukur menemukan jalan di jalur puisi ini. Dimana saya dapat menuntaskan dahaga akan susastra untuk terus menggali, memacu diri. Tidak hanya untuk menemukan jati diri, juga untuk  mendengarkan alam raya”. Acara peluncuran buku “Renjana” terbitan Pustaka Ekspresi ini  berlangsung meriah.

Dipandu oleh penyair Kadek Desi Nurani dan dihadiri oleh para tokoh seniman Bali, seperti Prof Dibia, IB Martinaya (Gus Martin), Wayan Westa, Gde Aryantha Soetama, Mas Ruscitadewi, Mira MM Astra, Putrayasa, Ngakan Kasub Sidan, Arya Dimas, Wini Arthini dan masih banyak lagi.

Gede Artison Andarawata yang seringkali dipanggil Soni, mewakili keluarga besar Nyoman Gunarsa mengucapkan terimakasih atas apresiasi kalangan seniman dalam beragam bidang seni yang tampil dan hadir dalam peluncuran buku Renjana di Museum Gunarsa ini.

Museum Gunarsa sendiri dibangun pada tahun 1990 dan diresmikan pada tahun 1994 oleh Menteri Pariwisata dan Kebudayaan, Wardiman Djoyonegoro. Museum yang mengoleksi lukisan klasik Bali dan lukisan modern karya seniman Bali ini kini menyimpan lebih dari 250 karya peninggalan terdahulu, termasuk lukisan, patung dan barang antik Bali lainnya.

Nyoman Gunarsa adalah sosok maestro yang telah banyak mendapat penghargaan diantaranya Pratisara Affandi Adi Karya Art Award (1976), Karya Terbaik Biennale III dan IV Jakarta (1978 dan 1980), Lempad Prize (1980), Medali Perak Biennale I Seni Lukis Yogyakarta (1988), Dharma Kusuma Cultural Award dari Pemerintah Daerah Bali (1994), dan Satyalancana Kebudayaan Art Award dari Presiden Republik Indonesia (2003). (ist)

Berikan Komentar