Made Romi Sukadana Hadirkan “Divergent Mind”, 24 Karya Dipamerkan di Santrian Gallery Sanur

(Dutabalinews.com), Pelukis Made Romi Sukadana menggelar 24 karyanya di Santrian Gallery Sanur selama sebulan mulai Jumat (9/1/2026). Pameran tunggal Romi di awal tahun 2026 yang mengangkat tema “DIVERGENT MIND” dibuka Dr. Made Suklu dengan pengguntingan pita.

Kurator I Made Susanta Dwitanaya menjelaskan dalam diskursus seni rupa secara umum, identitas artistik kerap dipahami sebagai sesuatu yang harus stabil, dan dapat dipetakan secara periodik. Seorang seniman dianggap “matang” ketika gaya visualnya menetap dan dapat dikenali secara konsisten dan liniearitasnya.

Cara pandang ini tidaklah keliru dan memudahkan pembacaan dan melakukan klasifikasi terhadap proses kreatif seniman, namun di sisi lain cara pandang semacam ini sering kali menyederhanakan proses kreatif seorang seniman yang sejatinya bersifat dinamis, tidak linier, dan penuh ketidakpastian.

Menurut Susanta, pameran Divergent Mind justru ingin melakukan pembacaan yang sedikit berbeda atas keyakinan umum tentang “identitas” seniman sebagai gaya yang ajeg dan stabil. Pameran ini justru hendak membaca dan menempatkan persoalan identitas dan proses kreatif seniman dalam konstelasi alam pikir seniman yang spesifik dan otonom, yang berada dalam gejolak pikir yang diwarnai perubahan, lompatan, dan pergeseran sebagai nilai utama praktik artistik.

Dalam psikologi kreativitas, tambah Susana, konsep divergent thinking merujuk pada kemampuan mental untuk menghasilkan banyak kemungkinan jawaban, berpindah pendekatan, serta menolak satu solusi tunggal sebagai kebenaran final.

Istilah ini diperkenalkan oleh J. P. Guilford dalam pidato presidensialnya di American Psychological Association tahun 1950, sebagai kritik terhadap dominasi convergent thinking yang menekankan jawaban benar–salah dan efisiensi logis. Guilford merumuskan empat karakter utama berpikir divergen yakni fluency (kelimpahan ide), flexibility (kelenturan berpindah kategori dan pendekatan), originality (keunikan gagasan), dan elaboration (kemampuan mengembangkan ide secara detail dan berlapis).

Dalam konteks seni rupa, berpikir divergen tidak semata hadir sebagai strategi intelektual, melainkan sebagai pengalaman tubuh dan kesadaran. Mihaly Csikszentmihalyi menyebut kondisi ini sebagai flow, yaitu keadaan ketika individu sepenuhnya larut dalam aktivitas kreatif, dan bertindak berdasarkan intuisi yang terlatih.

Baca Juga :  Mahasiswa Indonesia Raih 2 Perak dan 3 Perunggu di International Mathematics Competition 2024

Pada titik ini, proses kreatif tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh rencana rasional, melainkan oleh dialog spontan antara pengalaman, intuisi, dan medium (lukisan) itu sendiri.

Pada proses kreatif Romi Sukadana, divergent thinking berkembang lebih jauh menjadi apa yang dapat disebut sebagai divergent mind. Istilah ini selain merujuk pada kecenderungan menghasilkan variasi visual, juga meluas pada struktur mental dan sikap artistik yang membentuk keseluruhan praktik berkaryanya.

“Perbedaan gaya dalam karya-karyanya tidak mudah dibaca sebagai fase-fase kronologis yang rapi, sehingga tidak dapat terbaca sebagai periodeisasi. Ia bergerak secara non-linier, melompat dari satu pendekatan ke pendekatan lain, seolah menolak logika perkembangan progresif yang lazim digunakan dalam historiografi seni modern yang mengedepankan liniearitas,” ujar Susanta.

Jika ditinjau melalui kerangka Pierre Bourdieu, praktik Made Romi dapat dibaca sebagai bentuk agen kreatif yang terus merundingkan posisinya di dalam medan seni. Alih-alih tunduk pada habitus yang menuntut konsistensi gaya demi legitimasi umum sebagai seniman yang “ber-identitas”, ia justru memilih strategi diferensiasi yang cair.

Setiap karya menjadi negosiasi baru terhadap dirinya sendiri, bukan pengulangan dari formula yang telah mapan, Ia seperti sedang menolak cara berpikir tentang “kemapanan” itu. Kecenderungan tematik dan visual yang berubah-ubah dalam karya Made Romi akan sering disalahpahami sebagai ketiadaan identitas.

Namun pembacaan dan pemaknaan semacam ini berangkat dari asumsi bahwa identitas harus selalu berwujud dalam satu rupa visual tertentu atau setidaknya dapat dirunut dalam periodeisasi yang jelas. Stuart Hall menawarkan pemahaman lain tentang identitas sebagai sesuatu yang tidak tetap, melainkan terus “menjadi” melalui proses representasi.

Dalam pandangan Hall ini, identitas bukanlah esensi yang selesai, tetapi konstruksi yang senantiasa bergerak dan dinegosiasikan. Dengan demikian, penolakan Made Romi terhadap identitas tunggal justru dapat dibaca sebagai sikap kritis terhadap pemahaman identitas yang membeku. Identitas artistiknya tidak berhenti pada gaya, atau tema tertentu, tetapi hadir sebagai pencarian yang terus bergulir selama proses melukis itu sendiri.

“Melukis menjadi medan uji, ruang berpikir, dan arena eksperimentasi yang terbuka, sebuah praktik reflektif yang terus berlangsung,” jelasnya.

Baca Juga :  Kasus Tanah Di Jalan Gadung, Ombudsman Minta Ahli Waris Buat Laporan Resmi

Dalam konteks kerja melukis Made Romi, melukis tidak lagi dipahaminya sebagai produksi objek visual semata, melainkan sebagai modus berpikir. Hal ini sejalan dengan gagasan John Dewey tentang seni sebagai pengalaman (art as experience), dimana nilai seni terletak pada proses interaksi antara subjek, medium, dan dunia sekitarnya.

Setiap kanvas dalam pameran ini dapat dipahami sebagai rekaman spesifik dari proses berpikir tersebut, sebagai jejak dari dialog antara intuisi, pengalaman personal, ingatan visual, dan respons terhadap konteks sosial maupun batin.

Pameran Divergent Mind mengajak pemirsa untuk menggeser cara membaca karya seni. Alih-alih mencari keseragaman atau “ciri khas” yang tunggal, kita hendak diajak untuk memahami perbedaan, ketegangan, bahkan kontradiksi antar karya sebagai bagian dari pernyataan artistik yang lahir dari ekosistem pikiran seorang Made Romi.

Dalam perspektif ini, perbedaan gaya bukanlah kegagalan koherensi, melainkan manifestasi dari kebebasan berpikir yang disengaja. Kesadaran Made Romi akan dirinya sebagai otoritas atas karya-karyanya menjadi fondasi penting dalam praktik ini. Ia menempatkan dirinya sebagai subjek yang bertanggung jawab penuh atas pilihan estetik dan konseptualnya.

Sikap ini mengingatkan pada gagasan seniman modern tentang otonomi artistik, namun dengan kesadaran kontemporer bahwa otonomi tersebut selalu dinegosiasikan dalam relasi sosial dan kultural yang kompleks.

Romi menegaskan dalam seni rupa, perubahan, ketidakpastian, dan keberanian untuk menyimpang bukanlah kelemahan, melainkan sumber vitalitas kreatif. Dalam proses kreatifnya, berpikir dan melukis menyatu sebagai proses yang terus bergerak, sebuah perjalanan yang nilainya justru terletak pada keberlanjutan pencarian itu sendiri.

Sementara itu Made Dolar Astawa mewakili Santrian Gallery mengatakan Santrian Gallery selalu menyiapkan ruang untuk kegiatan para seniman tidak saja dari Bali bahkan Nusantara. Sehingga mampu menumbuhkembangkan seni rupa secara lebih luas. “Harapkan kami seni rupa semakin tumbuh dan terus berkembang,” ujar Dolar Astawa. (ist)