Selama Pandemi Covid-19, Pupuk EM4 Banyak Diminati

(Dutabalinews.com),Di tengah pandemi Covid-19 agak tersendat dan pupuk cair Effective Microorganisme (EM4) mengisi peluang kekosongan pasar dalam negeri karena harganya lebih murah dan kualitas terbukti (lisensi EMRO Jepang).

‘’Pupuk cair EM4 yang diproduksi satu-satunya di Bali, pemasarannya menjangkau hampir seluruh daerah di Indonesia itu selalu tersedia di pasaran, ketika banyak orang kembali suka bertani, menggunakan lahan tidur, mengisi kesenangan (hobi), mencoba usaha pertanian skala kecil dan menengah,” kata Direktur Utama PT Karya Pak Oles Grup, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr di Denpoasar, Rabu (3/6).
Ia sebelumnya menggelar rapat pemasaran produk EM4 dengan Kacab Pemasaran Bali, Irkham Rosidi, dan pengelola Koran Pak Oles Online, Albert Kin Ose Moruk untuk evaluasi pemasaran dua jenis pupuk organik yakni Bokashi Kotaku dan pupuk cair EM4. Pemasaran kedua jenis pupuk organik itu cukup lancar dan mantap. Semua itu berkat kerja keras, disiplin dan penuh dedikasi seluruh karyawan dan tim pemasaran PT Songgolangit Persada.

Baca Juga :   GM Harris Hotel Sunset Road: Wisatawan Domestik Masih Menjanjikan

Pak Oles yang juga Direktur PT Songgolangit Persada menambahkan pupuk ramah lingkungan yang diproduksi menggunakan teknologi EM di Indonesia, dari segi promosi dan pemasaran tergolong paling baik antara 160 negara di belahan dunia yang memproduksi pupuk untuk mendukung pertanian organik.

Demikian pula dari segi mutu mampu bersaing di pasaran dengan produk yang dihasilkan itu kualitasnya harus tetap dipertahankan dan terus ditingkatkan dengan belajar dari pengelola EM di mancanegara, khususnya tim jaringan kerja sama EMRO (EM Research Organization) Jepang dan APNAN (Asia Pasific Natural Agriculture Network) Thailand.

Selain itu, perlu ditingkatkan jalinan kerja sama dan kemitraan dengan Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan dan Fakultas Perikanan serta perbanyak penelitian dan pengkajian tentang aplikasi produk di lapangan. Semua proses penelitian dan pengkajian yang melibatkan kalangan perguruan tinggi dan petani itu dibuatkan kaset pandang dengar (video) yang selanjutnya dimuat di media sosial (medsos) dengan harapan mampu menjadi media informasi dan promosi pupuk ramah lingkungan, sehingga pemasarannya ke depan menjadi lebih lancar. (ist)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar