Petani Desa Banyuatis Kembangkan Vanili Dengan EM4

(Dutabalinews.com),PT. Songgolangit Persada (SLP), bekerja sama dengan Laboratorium Hayati Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Tanaman Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali dan Dinas Perkebunan Kabupaten Buleleng memberikan penyuluhan dan sosialisasi pertanian organik menggunakan pupuk ramah lingkungan dan teknologi effective microorganisme (EM4) kepada anggota Kelompok Ternak dan Tani Vanili Banjar Tengah, Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Selasa (11/8).

Kepala Lab Hayati, Ir Wayan Sugiarta memberikan apresiasi dan mendukung usaha kelompok ternak dan tani Vanili Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng dengan program organik yang ramah lingkungan. Lab Hayati memberikan bantuan produk organik antara lain Trichoderma untuk mendukung pengembangan tanaman vanilli.

Sugiarta memperkenalkan PT. SLP salah satu mitra kerja yang sejak lama ikut berperan memajukan pertanian organik. Antara lain, mengendalikan hama jamur akar putih pada tanaman cengkeh, ujar Sugiarta didampingi I Gede Kardika, Kasi Perlindungan Dinas Perkebunan, Kabupaten Buleleng.

Sementara itu, Staf Ahli PT SLP, Ir. I Gusti Ketut Riksa didampingi Kepala Cabang Pemasaran PT SLP, Bali – NTB, Ir. Irkham Rosidi mengatakan, hasil pertanian organik sangat menguntungkan bagi kehidupan umat manusia, karena produk yang dihasilkan itu ramah lingkungan.

Baca Juga :   Pak Oles: EM4 Asli Selalu Dicari dan Dimanfaatkan untuk Pengembangan Pertanian

Hasil pertanian yang bisa diekspor ke luar negeri harus pertanian organik, jika pertanian itu menggunakan pestisida atau zat kimia otomatis ditolak negara bersangkutan.
Ketua Kelompok Ternak dan Tani Vanili Desa Banyuatis, Gede Widiada (67) menjelaskan, anggota kelompok sebanyak 50 orang mengembangkan tanaman vanili berbasis organik. “Saat ini saya sendiri menanam 30.000 pohon vanili di atas lahan seluas dua hektar,” ujar pria dari tiga anak itu.

Dalam merawat tanaman vanili, sebut Widiada, pihaknya menggunakan pupuk organik cair. Ada lokasi khusus dalam proses fermentasi pupuk. Sebanyak 50 gentong kaca, kapasitas 50 liter dan satu gentong ukuran 2500 liter digunakan untuk membuat fermentasi pupuk organik cair.

Fermentasi tersebut menggunakan EM4, molase dan limbah dapur seperti air cucian beras, air kelapa, nasi yang sudah basi, sayuran yang didapat dari limbah rumah tangga di Desa Banyuatis. Dan pupuk cair tersebut dibagi ke kelompok.

Selain budidaya vanili, Widiada juga sedang mempersiapkan tanaman kapulaga bersama sejumlah petani lain yang juga terhimpun dalam wadah kelompok tani kapulaga.(ist)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar