Balai Bahasa Provinsi Bali Gelar Praktik Baik Literasi Baca-Tulis Untuk Guru SD Lewat Meeting Zoom

(Dutabalinews.com),Balai Bahasa Provinsi Bali menyelenggarakan kegiatan rutin tahunan bertema “Praktik baik literasi baca tulis dan numerasi bagi guru Sekolah Dasar (SD) ” melalui pembelajaran daring lewat zoom meeting selama tiga hari dengan menghadirkan 43 guru kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 SD se- Kabupaten Tabanan, Rabu (2/9).

Ketua pelaksana dari Balai Bahasa Provinsi Bali I Made Sumalia mengatakan dalam kegiatan ini juga melibatkan narasumber dari berbagai praktisi penggerak literasi seperti Dina Romadhianingrum, S.Pd, I Gede Eka Putra Adnyana S.Pd, I Wayan Nitayadnya,M.Hum, Ni Luh Ayu Nitya Laksmi S.Pd.,M.Pd, I Wayan Sandika Adi.,S.Pd dan Dr. Ida Ayu Made Gayatri,S.Sn., M.Si.

Sementara dari Kepala Balai Bahasa Provinsi Bali Toha Machsum, S.Ag.,M.Ag. menjelaskan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa, salah satunya ditentukan oleh indeks literasi baca tulis masyarakat.

“Sedangkan indek literasi di Indonesia masih rendah. Peran guru SD sangat penting sehingga kegiatan literasi ini ditujukan untuk guru-guru dalam memotivasi peserta didik dan meningkatkan serta mengembangkan literasi untuk peserta didiknya,” jelasnya.

Baca Juga :   GenBI Leadership Camp 2019 di Kintamani, “Energi Muda Katalisator Perubahan”

Dr. IA Gayatri

Kemudian Dr. Ida Ayu Gayatri, S.Sn.,M.Si yang merupakan narasumber dari Universitas Ngurah Rai (UNR) menyampaikan bahwa gerakan literasi sekolah memiliki tujuan untuk memotivasi dan meningkatkan minat literasi, maka itu perlu memperhatikan prinsip dasar gerakan literasi sekolah dengan mempertimbangkan kompetensi dasar dan karakteristik siswa didik.

“Implementasi gerakan literasi sekolah berbentuk Managemen Pendidikan, Sasaran Strategi, Luaran (MASSAL). Dalam konteks ini managemen pendidikan berbasis pada Merdeka Belajar berbasis pembelajaran literasi baca tulis dan numerasi,” terangnya.

Selanjutnya, sasaran kegiatan adalah guru-guru SD agar kompetensi guru semakin meningkat untuk memotivasi peserta didik dalam belajar dan membudayakan literasi.

“Strategi yang dilakukan adalah mengembangkan buku bahan ajar atau pengayaan dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan menyisipkan muatan nilai lokal seperti bahasa dan budaya daerah,” ujarnya.

Ditambahkan, luaran praktik baik literasi ini adalah guru berkarya untuk menghasilkan buku ajar atau buku pengayaan untuk peserta didik sesuai dengan kompetensi dasarnya.

Merdeka Belajar yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi penilaian kompetensi minimum literasi dan pendidikan karakter.

Baca Juga :   Akhiri AKKI, 800 Maba UNR Tabur Bunga di TPB Margarana

“Ini artinya sekolah memiliki otonomi untuk memberikan penilaian akhir dalam hal menghasilkan bahan ajar atau pengayaan yang sesuai dengan kurikulum dan muatan budaya daerah,” tambahnya.

Sembari menyebutkan luaran dari praktik baik literasi ini adalah guru berkarya dengan menerbitkan bacaan, bahan ajar, bahan pengayaan berbasis literasi dengan prinsip gerakan literasi sekolah

“Harapannya adalah Kementerian memberikan apresiasi terhadap kinerja dan karya guru, apresiasi kredit poin penilaian kinerja guru, dan mempublikasikan karya guru dalam bentuk buku, e-book atau dalam web-site Balai Bahasa sehingga guru termotivasi menjadi pelaku literasi yang produktif dan percaya diri,” pungkasnya. (sus)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar