Rizki Ernadi: Cegah Produksi Mubazir, Bali Perlu “Cold Storage” Hasil Pertanian

(Dutabalinews.com),Produk petani terkadang melimpah sehingga terbuang karena tak terserap pasar alias mubazir. Sementara musim tertentu, produk terbatas yang menyebabkan harga jadi melonjak. Seperti harga cabai yang saat ini melonjak yang membawa dampak pada meningkatnya inflasi.

“Jadi ke depan memang perlu ada tempat penyimpanan (cold storage) hasil pertanian agar bisa bertahan lama,” ujar Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda pada acara Capacity Building Media, Selasa (9/3) di Renon.

Dengan adanya cold storage ini maka akan menguntungkan para petani. Sebab, petani saat memasuki panen raya, setidaknya ada suatu tempat penyimpanan untuk hasil taninya agar bisa bertahan lebih lama.

Dikatakan mesin penyimpanan untuk mengawetkan hasil-hasil pertanian ini sudah ada di Badung yakni mesin Controlled Atmosphere Storage (CAS). Jadi ketika harga komoditi naik, maka cadangan bisa dikeluarkan sehingga harga tak sampai bergejolak. “Di Kudus juga ada. Petani datang ke penyimpanan ketika produksinya lebih. Pemerintah daerah bisa melakukan hal ini,” tambah Rizki.

Di awal paparannya, Rizki menjelaskan Capacity Building Media dengan tema “Edukasi Kebangsentralan” ini bertujuan antara lain menambah wawasan dan pemahaman wartawan terhadap tugas BI.

“Ini penting agar isi pesan yang disampaikan BI melalui tulisan dapat ditangkap masyarakat awam secara mudah,” ujar Rizki yang didampingi Deputi Direktur KPwBI Bali Donny Heatubun dan Remon Samora.

Rizki juga berharap wartawan dapat menjadi penyambung lidah BI terutama dalam mempercepat pemulihan ekonomi yang melanda saat ini. Di sisi lain Rizki memaparkan terkait kebijakan ekonomi baik dari sisi fiskal, moneter dan  struktural. Juga menyangkut fungsi serta visi dan misi Bank Indonesia.

Dijelaskan fungsi utama BI antara lain sebagai bank sirkulasi, sebagai kasir pemerintah, bankers bank dan menjaga kestabilan moneter.

“Jadi BI harus saling bersinergi agar ekonomi tumbuh tinggi, sustain dan inklusif. Akses keuangan juga harus  inklusif, dalam artian akses keuangan bukan hanya yang kaya dan banyak duit, tapi juga masyarakat luas,” jelasnya.

Terkait inflasi dijelaskan inflasi yang rendah dan stabil menjadi syarat pertumbuhan ekonomi yang sustain. “Jadi pengendalian inflasi ini penting. Inflasi rendah akan meningkatkan kepastian dunia usaha dan menjaga daya saing perekonomian,” tambahnya. (bas)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar