Dokter Danendra: Badai Sitokin, Perenggut Nyawa di Masa Pandemi

(Dutabalinews.com),Di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, berbagai istilah kedokteran semakin sering didengar masyarakat yang berkaitan dengan reaksi serangan virus covid-19. Salah satunya adalah Badai Sitokin.

Apa itu Badai Sitokin dan kenapa disebut demikian dan kenapa bisa menjadi perenggut nyawa manusia terganas di masa pandemi? Menurut dr. Danendra Dhanny Anggara, dokter umum Rumah Sakit Surya Usadha Denpasar, sebenarnya Badai Sitokin ini bukanlah nama sebuah penyakit, tapi sindrom yang yang mengacu pada sekelompok gejala medis di mana sistem kekebalam tubuh mengalami terlalu banyak peradangan, akibatnya, organ gagal berfungsi dan memicu kematian.

“Virus covid ini menyerang manusia dalam bentuk antigen, dan antigen ini memicu munculnya sistem imun kita yang berupa terjadinya inflamasi (peradangan),” jelasnya baru-baru ini.

Karena mendapat serangan ini, sistem imun manusia akan berusaha untuk menghancurkan antigen tersebut, sehingga muncullah gejala penyakit yang bisa berupa demam, sakit seluruh badan, nyeri sendi pergelangan dan juga berupa gejala lokal seperti sakit tenggorokan, sesak nafas, meriang dan lain sebagainya.

Semakin hebat sistem imun seseorang dalam melawan kehebatan infeksi inilah yang memicu munculnya sindrom badai Sitokin. Dan jika semakin berat peradangan yang terjadi, maka proses peradangan ini bisa menimbulkan efek ke seluruh organ tubuh, seperti, peradangan pada jantung, ginjal, liver dan organ lainnya.

Karena serangan inilah, menyebabkan kinerja jantung, ginjal menurun, pengentalan darah, kontraksi jantung melemah. “Sedangkan pada ginjal akan memicu kegagalan ginjal mengatur keseimbangan cairan dan berbagai macam kegagalan organ ini bisa menyebabkan gejala memberat dan resiko kematian,” lanjutnya.

Karena kondisi tersebut, dr. Danendra berharap jika ada kerabat yang terinfeksj virus Covid-19 meskipun sudah dinyatakan sembuh dan hasil pemeriksaan Swab/PCR menyatakan negatif,  sebaiknya tetap melakukan konsultasi ke dokter, terutama untuk pemantauan pengentalan darah dan juga fungsi organ vital seperti jantung, paru dan ginjal. (sen)

Baca Juga :   Kepala BNNP Malut: Geografis Indonesia Jadi Pintu Masuk Narkoba

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar