LPPM ITB di Tabanan Gelar Pelatihan Pemanfaatan Kelapa sebagai Sumber Energi Biomasa Terbarukan

(Dutabalinews.com), LPPM ITB mengusulkan pemanfaatan komoditas kelapa secara terpadu sebagai sumber energi biomasa terbarukan dan produk turunan lain yang menunjang ketahanan pangan.

Kelapa memiliki nilai strategis yang dapat menunjang berbagai sektor kehidupan. Kelapa tidak membutuhkan pembukaan lahan baru karena dapat ditanam di pematang sawah, tumpang sari di perkebunan palawija, dan lahan-lahan lain yang masih ada ruang kosong secara ko-lokasi.

Penanaman kelapa secara ko-lokasi dengan perencanaan tata ruang yang tepat dan asri akan menjadi daya tarik pemandangan tersendiri bagi wisatawan sekaligus dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

“Dengan konsep penanaman ko-lokasi ini diperkirakan produksi kelapa dapat meningkat sampai 5 kali dari tingkat produksi sekarang,” jelas Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha,Ph.D. belum lama ini di Desa Bantiran Tabanan.

LPPM ITB bermitra dengan IBIMA menyelenggarakan pengabdian masyarakat dalam upaya pemanfaatan kelapa sebagai sumber energi biomasa terbarukan secara terpadu dengan program ketahanan pangan di Desa Bantiran Kab. Tabanan. Acara ini diselenggarakan selama dua hari diikuti peserta dari tiga desa yakni Belimbing, Bantiran dan Pupuan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat skema Bottom-Up LPPM ITB dengan anggota tim utama Dr. Eng. Arno Adi Kuntoro, S.T, M.T, dan Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha,Ph.D.

Pelatihan pemanfaatan kelapa ini terbagi menjadi beberapa segmen, mulai dari pembuatan minyak VCO dan minyak goreng dari daging kelapa, budidaya Maggot BSF dari ampas kelapa, produksi pupuk cair hayati dari air kelapa, pembuatan cocochip untuk bahan bakar kompor rumah tangga beserta demonstrasi aplikasinya, pembuatan cocofiber dari sabut kelapa dan cocopeat sebagai media tanam pertanian dari pemisahan serat cocofiber.

Di tempat pelatihan, program pilot project ini untuk menjadi percontohan bagi masyarakat yang berminat menindaklanjuti secara kolaborasi. Keberhasilan pilot project ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata mengenai aplikasi pengolahan kelapa secara terpadu yang dapat dijalankan oleh masyarakat Bali secara umum dalam skema UKM atau BUMDes, tentunya dengan dukungan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan.

Dengan gerakan pengolahan kelapa terpadu secara massal, terlebih lagi berbasis Desa Adat Pekraman, diharapkan kemandirian energi dan ketahanan pangan di Bali dalam jangka panjang bisa diwujudkan.

Baca Juga :   Sari Galung: Ujian Sekolah Lewat Daring, Kelulusan Siswa Ditentukan lewat Nilai Rapor

Pada akhir penutupan acara pelatihan dilakukan penyerahan 5 bibit kelapa hybrida secara simbolik kepada tiap peserta untuk ditanam di pekarangan masing-masing sebagai wujud kesungguhan untuk mendukung dan meneruskan program ini.

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar