Diskusi Empat Konsensus Kebangsaan, Dr. Wardana: Ketahanan Budaya Bangsa Harus Kuat

“Perbedaan rasial, agama, suku/ras sebagai warisan secara turun temurun, dahulu merupakan unsur-unsur pengayaan yang mewarnai khasanah budaya bangsa. Namun sekarang telah berubah menjadi momok yang menakutkan sekaligus ancaman potensial bagi eksistensi bangsa. “Akankah ikatan tali kesatuan ini terancam lepas. Tentu tergantung bagaimana menanamkan kembali wawasan kebangsaan”.

(Dutabalinews.com),Etika kehidupan berbangsa merupakan rumusan yang bersumber dari ajaran agama, khususnya yang bersifat universal, dan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir, bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa. Dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional serta ke-Bhinnekaan Tunggal Ika sebagai pijakan dalam memperkokoh dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Untuk menjaganya ketahanan budaya bangsa harus kuat. Juga penting dijaga ketahanan ekonomi dan lingkungan. Kekayaan sebuah bangsa tergantung bangsa itu bisa menjaga dan membangun konsensusnya,” tegas
Dosen politik yang juga mantan Wakil Bupati Buleleng Dr. Drs. I Gede Wardana,MSi. saat menjadi narasumber pada diskusi yang mengangkat tema “Mengaktualisasikan Implementasi Empat Konsensus Kebangsaan untuk Menjaga dan Menguatkan Keutuhan NKRI”, Sabtu (16/4) di Gallery Gujji Cafe Jln. Merdeka, Tanjung Bungkak Denpasar.

Diskusi yang digelar Anggota MPR RI Dr. Made Mangku Pastika, M.M. dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara didampingi Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja menghadirkan puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi/universitas juga narasumber Dr. I Wayan Tagel Edy, MS selaku sejarawan dan dosen FIB Unud.

Dr. Wardana menjelaskan nilai-nilai empat konsensus kebangsaan terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus menjadi pedoman untuk menjawab tantangan berbangsa pada masa kini dan masa datang.

Menurut Dr. Wardana: yang harus diwaspadai adanya pergeseran nilai agama karena perbedaan tafsir.
“Namun kalau ketahanan budaya kita kuat maka tak masalah. Juga penting menjaga ketahanan ekonomi dan lingkungan.
Membangun mindset menjadi hal penting agar tak mudah dipengaruhi hal-hal yang dapat mengganggu ketahanan baik ekonomi maupun budaya,” tambah Wardana yang sempat menjabat Bupati Buleleng ini.

Baca Juga :   Update Penanggulangan Covid-19 di Bali, Lagi Sembilan Pasien Meninggal

Hal senada disampaikan Dr. I Wayan Tagel Edy, MS yang mengatakan perbedaan pendapat di alam demokrasi ini harus dihormati. “Jadi demo itu sah-sah saja, asal patuhi aturan. Sikap kritis itu penting tapi jangan sampai diadu domba,” ujarnya. Ia juga mengingatkan konsensus kebangsaan yakni 4 pilar itu memang banyak tantangan baik di dalam maupun dari luar negeri. Sebab dipengaruhi adanya pergeseran dan dinamika masyarakat yang begitu cepat. “Salah satu solusinya adalah dengan pendidikan yang berkesinambungan sehingga bangsa itu bisa semakin maju.
Empat pilar kebangsaan ini merupakan soko guru yang bisa landasan untuk berubah dan maju,” jelasnya.

Sementara itu Anggota MPR RI yang juga Anggota Komite II DPD RI dapil Bali Dr. Mangku Pastika mengatakan upaya-upaya untuk memantapkan dan meneguhkan rasa kebangsaan di kalangan generasi muda khususnya dan masyarakat pada umumnya perlu terus dipupuk dan dikembangkan.
Apalagi belakangan ini disinyalir rasa kebangsaan dimaksud mulai memudar atau terkikis oleh arus globalisasi.

“Ancaman terhadap keutuhan NKRI dan Pancasila di era globalisasi saat ini tidak ringan. Kalau hal ini tidak diwaspadai maka ancaman itu bisa mengganggu keutuhan bangsa. Dan kita tak bisa tahu seperti ke depannya, apakah negeri ini masih bisa seperti sekarang,” ujar Dr. Mangku Pastika.

Melihat ancaman dan tantangan ke depan, maka kepada generasi muda khususnya mahasiswa sebagai penerus bangsa diminta memperkuat ketahanan dan kecintaan terhadap NKRI, dengan salah satunya menjaga dan melestarikan kebudayaan yang diwariskan leluhur.
“Kalau kita kurang waspada, kita bisa terpecah, seperti halnya Ukraina yang dulu menyatu dengan Rusia. Dulu orang perang ideologi, sekarang justru perang fisik, dengan bom yang bisa merusak dan menghancurkan dan menimbulkan banyak korban (jiwa) manusia,” ujar Mangku Pastika.

Mantan Gubernur Bali dia periode ini menegaskan ancaman bangsa ini nyata. Dan mereka masuk ke kampus-kampus mempengaruhi mahasiswa. “Perlu ada ketahanan yang kuat sehingga tidak gampang disusupi. Jadi harus ada semacam vaksin ideologi agar kuat. Saya kira senjata yang bisa hadapi gempuran ideologi maupun terorisme adalah Pancasila,” tegas Mangku Pastika.

Baca Juga :   Sidang Sabu: Dituntut Dua Tahun, Terapis Spa Menangis

Di sisi lain Mangku Pastika juga mengingatkan pentingnya implementasi nyata sila ke-5 Keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Sebab kalau keadilan sudah terwujud, maka keamanan akan terjaga dengan baik. “Ketika saya jadi gubernur keadilan sosial ini jadi prioritas seperti penanganan kemiskinan, saya bangun bedah rumah, Program Simantri, dll. Jadi seorang pemimpin itu harus bisa ciptakan keadilan sosial bagi warganya,” pesan mantan Kapolda Bali ini. (bas)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar