Petani Manggis Antusias Budidayakan Padi ‘Salibu’

(Dutabalinews.com),Sukses menanam padi organik dengan pola SRI (System of Rice Intensification), petani di Manggis Karangasem kini melanjutkannya dengan penanaman padi Salibu (salin ibu) karena dinilai menguntungkan.

“Banyak keutungan dari budidaya padi salibu ini, di antaranya umurnya lebih pendek, kebutuhan air sedikit dan biaya produksinya rendah karena ada penghematan mulai pengolahan tanah, penanaman, penggunaan bibit dan kemurnian genetiknya lebih terjaga,” ujar Petugas Lapangan Pertanian Ketut Tinggal saat memberikan penyuluhan budidaya padi salibu di Subak Bakung Desa Manggis, Karangasem, Minggu (26/6).

Penyuluhan selain dihadiri anggota subak juga Kabid Ketahanan Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Nyoman Suastika serta Pelaku Usaha Padi Organik yang sekaligus Dirut PT Bali SRI Organik (BSO) Ir. IBG Arsana. Dalam penyuluhan tersebut, petani diberi contoh langsung tentang budidaya Salibu.

Menurut Tinggal, pada Salibu ini, intinya petani tinggal melanjutkan perawatan dari sisa panen tanaman padi sebelumnya. “Jadi ketika panen, sisa tanaman bawah sekitar 5 cm dirawat kembali sehingga tidak perlu ada pembibitan dan penanaman benih baru,” tambahnya. Cara salibu ini sudah diterapkan pula di sejumlah lokasi di Gianyar termasuk di Agro Learning Center (ALC) Denpasar.

Melihat cara Salibu yang sangat efisien dan menguntungkan ini petani di Subak Bakung sangat antusias dan akan mengembangkan cara ini. Petani setempat yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Sedana mengaku sebelumnya cukup lama tidak bisa menanam padi karena terputusnya aliran air ke sawah mereka.

Berkat bantuan donatur Discova dan dukungan PT BSO, petani kini bisa menanam padi organik. “Petani sudah beberapa kali panen padi organik,” jelas Pekaseh I Wayan Puja. Setelah panen padi organik ini, petani akan melanjutkan dengan Salibu ini.

Kabid Ketahanan Pangan dan Hortikultura Nyoman Suastika menyambut positif semangat petani mengembangkan usaha tani padinya. “Kami siap mendukung agar petani berhasil mengembangkan padi (organik),” ujarnya.

Selain di Subak Bakung, penanaman padi organik makin meluas hingga ke Subak Uma Manggis dan Subak Sandat. Sebelumnya petani setempat mengembangkan padi dengan metode SRI. Usaha tani padi dengan sistem SRI (System of Rice Intensification) dapat menghemat penggunaan benih, penggunaan air, pupuk kimia dan pestisida kimia.

Baca Juga :   APPMB Sambut Sumringah "Open Border International" Bandara Ngurah Rai 

Kadis Pertanian Tanaman dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Dr. I Wayan Sunada saat ikut panen perdana padi organik Varietas Ngaos Sri Kuning di Subak Bakung Sidemen, Sabtu (7/5) mengatakan tingginya penyusutan lahan pertanian bisa mengganggu produksi pangan. Karena itu budidaya dengan sistem Salibu (salin ibu) yang kini diterapkan dalam pertanian padi (organik) diharapkan bisa menjadi salah satu upaya meningkatkan produksi pangan (beras).

“Sistem salibu dapat meningkatkan panen karena tidak lagi memerlukan pengolahan tanah dan persemaian tanam, sehingga rentang waktu produksi lebih singkat. Petani tinggal melanjutkan memilihara tanaman padi yang telah dipanen sebelumnya. Dengan salibu ini petani bisa panen beberapa kali,” ujarnya.(bas)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar