​Sebelum Memulai Pelajaran, Siswa Baru di Dwijendra Wajib Ikuti Upacara “Sisya Upanayana”

(Dutabalinews.com),Seluruh siswa baru SMP dan SMA Dwijendra yang beragama Hindu melaksanakan upacara sisya upanayana. Upacara ini digelar bertepatan dengan Rahina Kajang Kliwon, Anggara Kasih yang jatuh pada hari Selasa, 2 Agustus 2022.

Ketua Yayasan Dwijendra Dr. I Ketut Wirawan,S.H.,M.Hum. mengatakan tujuan dilaksanakan upacara sisya upanayana ini adalah untuk melakukan pembersihan kepada para siswa baru sebelum nantinya akan memulai menerima ilmu pengetahuan dari para guru pengajarnya.

“Upacara sisya upanayana ini biasanya lebih dikenal dengan upacara pawintenan. Karena dari sinilah siswa baru akan lebih bisa dibina dan disiplin dalam mengikuti semua pelajaran yang diberikan oleh para guru pengajarnya,” katanya. Upacara sisya upanayana yang dipuput langsung oleh Peranda Wayahan ini berlangsung dengan lancar. Siswa terlihat begitu antusias mengikuti upacara hingga selesai.

Pawintenan kepada siswa baru ini dilakukan setelah usai mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah. Menurut Dr. Wirawan pelaksanaan upacara selain siswa, upacara ini juga diikuti para guru agar keduanya siap dalam menjalankan proses belajar dan mengajar.

Dengan upacara ini diharapkan dapat membersihkan dan mempertajam pikiran. Dengan pikiran yang tajam siswa akan mampu lebih cepat menyerap ilmu pengetahuan di sekolah. Juga untuk memperhalus budi pekerti, berbicara sopan dan berprilaku yang baik. Sehingga dengan sisya upanayana diharapkan siswa akan memiliki kecerdasan intelektual, sosial, spiritual dan kecerdasan emosional sehingga menjadi tauladan di masyarakat.

Ketua Yayasan Dwijendra Dr. KetutWurawan,S.H.,M.Hum.

“Jadi upacara ini untuk pertama kali menjadi siswa karena kita sekolah bernuansa agama dan adat Bali. Ini sebagai awal mulai belajar. Ini seperti pawintenan, khusus untuk sisya upanayana dilakukan pembersihan diri kemudian beri ketenangan kepada  diri,” tambah Dr. Wirawan.

Dijelaskan, mungkin sebelumnya ada berbuat buruk, berpikiran tidak baik, jadi dibersihkan dulu sehingga bisa belajar dengan baik. Termasuk guru-guru diberikan pembersihan sebelum mulai mengajar. “Kalau sudah lulus, juga kita adakan upacara seperti ini sebagai ungkapan terima kasih sudah belajar disini dan semoga ilmunya bermanfaat ke depannya. Kita disini menerapkan Catur Guru. Kami mengajarkan agama yang simpel, semuanya dimulai dari diri sendiri. Agama itu unsur pribadi, hanya diri sendiri dengan Tuhan,” tambah Wirawan yang juga sebagai dosen ini.

Baca Juga :   Berkat "Limbah Jerami", Ketua AMSI Bali Raih Doktor di Unud

Di Dwijendra tambahnya, semua program sudah ada dan tujuannya adalah memajukan mutu pendidikan dan SDM. Prosesnya tentu disesuaikan dengan  perkembangan zaman. Menurut Wirawan, pada dasarnya tidak ada orang bodoh, hanya ada orang malas, atau ada orang yang ditempatkan tidak pada posisinya. “Jadi disinilah kita fasilitasi. Jangan hanya sekolah saja  yang ngurus. Wali akan setiap minggu lapor pasa ortu murid bagaimana perkembangan anaknya supaya ortu tidak paksa anak-anak atas kemauan ortu,” tegas Wirawan.

Anak bisa cari jati dirinya sendiri, jadi mereka punya  karakter, itu yang utama. Mereka paham belajar di sekolah ini untuk apa, bukan hanya menghabiskan waktu, tapi punya tujuan akan kemana. “Bagaimana mereka memanfaatkan waktunya dengan didukung semua fasilitas yang disediakan sehingga berhasil,” pungkas Wirawan. (sus)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar