Pariwisata & Budaya

​Gathering NCPI Bali 2023, Pengusaha Khawatir Kemacetan dan Sampah Ancam Pariwisata 

(Dutabalinews.com),Pertumbuhan pariwisata Bali yang cukup tinggi pasca pandemi Covid-19 cukup mengagetkan karena di luar prediksi. Di sisi lain, sejumlah masalah mengancam keberlangsungan pariwisata.

“Sebelumnya kita prediksi pertumbuhan akan terjadi perlahan, namun kenyataannya begitu cepat. Meski begitu sayangnya peluang ini belum bisa diambil pengusaha lokal yang sempat terpuruk diterpa pandemi,” ujar Ketua NCPI (Nawa Cita Pariwisata Indonesia) Bali Agus Maha Usadha saat Gathering NCPI Bali 2023, ‘Together We Face The Future’, Jumat (18/8) malam di Jimbaran.

Gathering dihadiri sejumlah pelaku pariwisata dan pemerhati di antaranya Anggota Dewan Penasihat NCPI Bali I Ketut Ngastawa dan Sidharta Indrajaya (Romo Sin), Ketua Div. Investasi Agung Prianta, Ketua Tata Niaga Pariwisata Prof. Dr. Drs. Nyoman Sunarta, MSi., Ketua Sumber Daya Desa Made Mendra Astawa, Sekretaris NCPI Bali Adi Parnama Perwira Duta. Juga hadir Divisi IT & Marketing Ketut Siti Maryati dan Lilik Witari serta Divisi UMKM & Industri Kreatif NI Wayan Djani Ananta.

Berdasarkan data, jumlah wisman yang masuk Bali melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada Januari-Juli 2023 mencapai 2,9 juta orang. Dikutip dari Kantor Imigrasi (Kanim) Ngurah Rai, tren peningkatan wisatawan asing yang masuk Pulau Dewata terus meningkat. Jumlah turis asing lima besar yang masuk Bali yakni Australia mencapai 652.461 orang, India (230.063), Cina (131.458), Amerika Serikat (129.137) dan Inggris 126.822 orang.

Dalam gathering selain dibahas sejumlah peluang pasca covid juga mengemuka masalah yang dihadapi Bali, yakni kemacetan dan sampah. “Infrastruktur juga perlu ditambah,” jelas Ketua Div. Investasi Agung Prianta.

Ia juga mengatakan kemacetan harus segera dicarikan solusi. Pertumbuhan kendaraan yang begitu tinggi belum diimbangi infrastruktur yang memadai. Akibatnya di sejumlah ruas jalan penting kerap macet. “Mengurai kemacetan ini tak ada salahnya dilakukan sistem genap-ganjil seperti Jakarta,” tambah pengusaha pariwisata ini.

Agung menambahkan destinasi Bali seperti Ubud dan Sanur,  termasuk Kuta, Legian dan Seminyak terus berevolusi. Karena itu menurutnya penting adanya pengetatan perizinan untuk menjaga keberlangsungan destinasi.

Baca Juga :   OYO Dukung SDM, Teknologi, dan Pemasaran Desa Wisata di Gianyar

Di lain sisi, Ketua Sumber Daya Desa Made Mendra Astawa mengingatkan numpleknya wisatawan di beberapa kawasan juga menjadi biang kemacetan. “Saya kira kalau wisatawan bisa lebih tersebar akan sangat membantu mengurangi kemacetan ini,” jelasnya.

Akademi pariwisata Prof. Dr. Sunartha selain menyoroti masalah sampah, kemacetan juga ketersediaan air bersih yang perlu diantisipasi. Sampah. sebenarnya bisa diminimalisir oleh setiap warga. “Kurangi bawa sampah ke rumah,” sarannya. Ia juga melihat di kota-kota besar umumnya lebih banyak untuk kantor dan kegiatan bisnis. Jadi kota terpisah dengan permukiman.

Di awal diskusi, Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha mengatakan dengan pariwisata yang membaik belakangan ini harus bisa diantisipasi semua pihak. “Saatnya sekarang kita siapkan diri sesuai kapasitas dan potensi masing-masing. Ini kalau dikelola dengan baik akan ada value,” jelasnya.

Namun di balik peluang yang begitu menjanjikan dengan cepatnya pariwisata melejit setelah covid, Agus juga melihat sejumlah masalah di depan mata yang belum bisa tertangani dengan baik. “Bali tahun depan akan macet total kalau tidak ada terobosan cepat untuk mengantisipasi kemacetan. Kendaraan (pariwisata) di Bali begitu banyak,” tambahnya.

Anggota Dewan Penasihat NCPI Bali I Ketut Ngastawa memberikan gambaran beberapa tahun lalu sebenarnya masalah kemacetan ini sudah menjadi kekhawatiran apalagi banyak event besar di Bali. “Saat itu underpass dan jalan tol di atas perairan menjadi opsi dan bisa mengurai kemacetan. Oleh karena itu solusi semacam itu perlu dipertimbangkan ke depan, terutama perempatan-perempatan sebagai pusat kemacetan,” ujar Ngastawa. (bas)

Berikan Komentar