Ekonomi & Bisnis

Bali Coffee Katulistiwa Festival, Dr. Mangku Pastika, M.M.: Jaga Kekhasan Kopi Bali

“Saya happy dengan kegiatan ini. Saya penggemar kopi dan minum kopi 2 kali sehari. Kalau orang bilang minum kopi tidak bisa tidur, saya justru biasa saja. Malah kalau gak ngopi saya pusing,” ungkap Mangku Pastika.

Dikatakan kopi saat ini lagi menjadi tren dunia. Ini peluang yang sangat bagus. Banyak orang luar bisnis kopi di Bali dan mempopulerkan kopi Bali.

“Saya punya teman orang Jepang. Kalau ke Jepang oleh-oleh saya kopi Bali dan mereka sangat suka. Dan saat jadi Gubernur (Bali) kalau ada tamu daerah, pasti sovenirnya kopi Bali,” ujar Mangku Pastika seraya menambahkan saat menjabat sempat menanam ribuan tanaman kopi.

Dikatakan tiap daerah di Bali memiliki kekhasan tersendiri. Seperti kopi arabika Kintamani yang memiliki kekhasan unik dengan campuran rasa jeruknya yang alami dan telah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis.

“Melalui festival kopi ini diharapkan dapat menjadikan petani dan pebisnis kopi di Bali bisa lebih bergeliat dan membawa nama Bali ke kancah nasional dan internasional,” jelasnya.

Mantan Gubernur Bali dua periode ini bahkan mengapresiasi festival kopi seperti ini karena melibatkan banyak pihak baik petani kopi, bisnis warung kopi, barista dan sebagainya.

Apalagi festival ini dimeriahkan dengan kompetisi tentunya dapat meningkatkan mutu produk dari para pelaku bisnis kopi dari berbagai daerah di Nusantara.

Namun diingatkan agar faktor kualitas diperhatikan sehingga produknya makin diminati dan pada akhirnya bisa meningkatkan pendapatan.

Melihat potensi kopi yang begitu besar, Mangku Pastika bahkan menyatakan tertarik untuk bisa bergelut dalam usaha kopi. “Saya ada lahan untuk pengembangan kopi, ini bisa di kerjasamakan agar bisa mengangkat kopi Bali,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Kopi Indonesia (Aski) Provinsi Bali Dwi Atmika Arya Rumawan mengatakan Bali Coffee Katulistiwa Festival itu menjadi ajang untuk mempersatukan para petani kopi, pecinta kopi yang sekaligus diharapkan dapat meningkatkan penghasilannya. “Kalau petani sudah sejahtera maka mereka akan semangat menanam kopi,” ujarnya.

Baca Juga :   Astindo Travel Fair di Lippo Mall Kuta, Animo Masyarakat Berwisata Terus Meningkat

Dwi menjelaskan tanaman kopi selain memiliki fungsi ekologis juga bermanfaat bagi kesehatan jika diminum dengan teratur. “Yang penting kopi asli dan tidak ditambah gula,” kata pemilik Toosi Coffee ini.

Dijelaskan kompetisi meracik kopi secara manual yang digelar 4-8 Oktober ini diikuti 23 peserta dari berbagai daerah di Tanah Air. Dengan tidak ada campur tangan mesin, maka bisa dirasakan rasa asli kopi.

Sementara itu, Ivan dan kawan-kawan yang bergelut dalam bisnis kopi di Bali berharap ajang festival maupun kompetisi seperti ini bisa digelar lebih banyak lagi sehingga dapat meningkatkan kreativitas generasi muda.

Selain festival, juga digelar atraksi barista, uji kopi, talk show, musik, dan beberapa perlombaan termasuk kunjungan lapangan ke kebun kopi di daerah Kintamani, Bangli untuk bertemu petani kopi dan melihat langsung budidaya kopi. (bas)

Berikan Komentar