Ekonomi & Bisnis

Terancam Rugi, Ratusan Peternak Babi Minta Pj. Gubernur Bali Bantu Tetapkan Harga Jual

(Dutabalinews.com), Rendahnya harga daging babi yang dikirim ke luar Bali akan mengancam kelangsungan usaha peternak. Karena itu Pj. Gubernur diminta membantu untuk menetapkan harga jual ke luar sesuai harga pokok produksi.

“Saat ini harga jual Rp29 ribu/kg, sedangkan biaya pokok produksi Rp40 ribu,” ujar Ketua BPD GUPBI (Gabungan Usaha Peternakan Babi) Bali I Ketut Hari Suyasa,S.E. didampingi salah seorang pengurus Aleks Soepardika usai bertemu dengan Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada, Selasa (7/11) di Kantor Gubernur Bali. Sedianya ratusan peternak dari seluruh Bali itu ingin bertemu Pj. Gubernur Bali SM Mahendra Jaya.

Dalam pertemuan peternak menyampaikan aspirasinya terkait harga babi yang dinilai masih rendah. Ketua BPD GUPBI Bali Hari Suyasa,S.E. mengatakan harga daging sejak enam bulan belakangan ini sangat jauh dari harga pokok produksi.

“Harga pokok produksi Rp 40 ribu, sedangkan nilai jual hanya Rp29 ribu. Keadaan ini sangat berat dan mengancam kelangsungan usaha peternak,” jelasnya.

“Hari ini kita datang karena kita sudah bersurat berkali-kali ke pemerintah, 3 x kami dibatalkan untuk audensi. Sebagai tanggung jawab kami kepada peternak maka mereka kita ajak langsung ketemu pemerintah. Walaupun hari ini tidak ketemu Pj. Gubernur tapi ada beberapa poin yang kita minta sudah disetujui,” tambah Hari Suyasa.

Salah satunya, yakni Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada berjanji akan
menetapkan nilai jual produksi senilai Rp40 ribu/kg daging. “Batasnya adalah 1 bulan ini. Yaa janji ini kami tunggu. Kalau tidak, kami akan menghadap lagi,” tegasnya.

Dikatakan untuk babi kiriman ke luar daerah, harganya masih kisaran Rp 29 ribu/kg. Hari Suyasa berharap setidaknya bisa Rp40 ribu/kg.
Hal ini mengacu pada nilai jual pokok produksi dan harga ini tentunya akan disesuaikan tiap 6 bulan. “Siapa tahu nanti biaya pokok produksi turun, ya otomatis harga jualnya juga turun. Jadi ini adil,” ungkapnya.

Peternak saat ini resah dengan kondisi yang ada. Kalau ini tidak cepat ditanggulangi akan berdampak buruk dalam beberapa bulan ke depan, karena berpotensi harga babi akan melonjak tajam. Kejadian seperti adanya kasus ASF lalu, sempat terjadi harga babi Rp10-25 ribu kemudian naik jadi Rp55 ribu. Ini tentu tidak baik.

Baca Juga :   Ketua BKS LPD Bali: Kondusivitas dan Keharmonisan Perkuat Eksistensi LPD di Tengah Pandemi

Dijelaskan ada jutaan yang terlibat dalam bisnis ini mulai pedagang babi guling, dagang sate, tukang ‘juk’, tukang ‘tegen’ dan banyak usaha lainnya. Bisnis ini dilakoni sebagian besar masyarakat Bali. Penting sekali pemerintah (Gubernur) membantu memproteksi terhadap kelangsungan peternak babi ini karena ini bukan hanya ekonomi semata tapi masalah sosial dan budaya.

Hari Suyasa menegaskan pentingnya ada penetapan harga jual ke luar. Harga daging babi saat ini di wilayah tujuan Kalimantan, NTT dan Jawa di atas Rp120 ribu. Sedangkan di Bali rata-rata Rp80 ribu/kg. Di Indonesia, ada 8 pulau yang beternak babi dan Bali yang paling cepat mengcovery pasca kasus ASF. Jadi 7 wilayah lainnya yang kena itu sekarang jadi konsumen bukan lagi produsen.

Maka dari itu peternak Bali ini perlu diproyeksi biar bisa tetap eksis. Sebab kalau dibiarkan maka peternak besar yang akan eksis. Mengingat masalah terbesar yang dihadapi peternak (kecil) soal kenaikan biaya produksi karena harga pakan yang mahal, salah satu bahan pakan yang naik tinggi dan paling banyak dibutuhkan adalah jagung. “Kita tidak punya jagung, padahal kebutuhan jagung per hari untuk pakan babi sekitar 3 juta kilo,” ujar Hari. (ist)

Berikan Komentar