Pariwisata & Budaya

FGD ‘Baliku Sayang, Baliku Malang’: Mencari Solusi untuk Masalah Lingkungan dan Kesejahteraan

(Dutabalinews.com), Bali perlu solusi segera untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi seperti kemacetan, sampah yang belum teratasi dan ancaman kerusakan lingkungan yang besar dan masif.

Demikian antara lain mengemuka dalam FGD (Focus Group Discussion) dengan tema “Baliku Sayang, Baliku Malang” yang digelar Yayasan Tamiang Bali Mandiri, Sabtu (27/4) di Kebun ALC (Agro Learning Center) Jalan Cekomaria Denpasar.

Hadir pada acara tersebut Anggota DPD RI Dr. Made Mangku Pastika,M.M. sebagai Keynote Speach dan narasumber Dr. IDG. Palguna, S.H., M.Hum. (akademisi), Drs. Putu Suasta,M.A. (budayawan), Dr. Sutarya (akademisi) Ketut Putra Sarjana (ahli lingkungan) dan Ketua Yayasan Tamiang Bali Nyoman Baskara. FGD yang dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara, Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja juga dihadiri sejumlah praktisi dan akademisi.

Menurut Mangku Pastika, Bali seharusnya sejahtera dengan apa yang dimiliki asal bisa dikelola dengan baik dan profesional oleh orang-orang yang kompeten. “Kita punya potensi besar untuk senang. Jadi harusnya Baliku senang, Baliku sayang, Baliku menang dan kaya. Bukan Bali yang malang,” ungkap Mangku Pastika,M.M.

Mantan Gubernur Bali dua periode itu mengingatkan kenapa kondisi Bali seperti sekarang ini. “Hal itu juga tidak terlepas dari sistem demokrasi yang cenderung menempatkan orang-orang yang tidak kompeten menjadi pemimpin. Sehingga menghasilkan pemimpin penyamun,” ujar Mangku Pastika mengutip ungkapan Socrates, seorang filsuf Yunani.

Karena itu, peran pemimpin itu menjadi strategis dan sangat penting bagi kemajuan dan kesejahteraan rakyat. “Semoga ke depan Bali bisa menghasilkan pemimpin yang bagus dan kompeten. Mari fokus cari jalan agar kita dapat pemimpin baik,” jelasnya.

Di sisi lain Mangku Pastika mengaku gembira karena dari diskusi ini banyak melahirkan buah pikiran yang bernas. Namun diingatkan jangan terlena karena nama besar Bali yang telanjur besar dan terkenal.

Dikatakan Bali makin hari makin terkenal, makin besar dan makin manis sehingga banyak yang suka dan mereka senang ke Bali. Banyak bisnis yang sebenarnya sederhana tapi karena pakai nama Bali jadi terkenal.

Baca Juga :   Diklat FSP Par-SPSI  Bali, Upaya Tingkatkan Wawasan Pekerja

“Jadi mereka yang datang gak mungkin dibatasi. Ini harus dicarikan solusi, ini tugas pemimpin ke depan agar bisa mengelola Bali menjadi lebih baik,” pesan Mangku Pastika menanggapi kekhawatiran akan makin banyaknya masalah yang dihadapi Bali.

Peserta mengatakan Bali makin padat karena tingginya kunjungan turis, banyaknya pendatang selain jumlah warga lokal yang terus bertambah. Kondisi ini membawa konsekuensi terhadap lingkungan, alih fungsi lahan yang tinggi. Bahkan banyak kerusakan hutan. Padahal hutan menjadi salah satu sumber air. “Banyak mata air yang hilang, jangan sampai jadi air mata nantinya,” ungkap peserta diskusi.

Menurut Mangku Pastika, air bagi umat Hindu (Bali) merupakan sumber kehidupan yang dimuliakan dan besar pengaruhnya. Oleh karena itu air ini harus dijaga dengan baik dan jangan sampai ada yang merusak sumber-sumber air. Air bukan hanya untuk orang Bali saja juga wisatawan yang banyak menggunakannya. Sehingga perlu langkah-langkah nyata untuk menjaganya.

Air sudah menjadi komoditas yang sangat berharga.
Semua komponen termasuk hotel banyak menggunakan air. Karena itu sudah seharusnya mengolah limbah ini sehingga bisa dimanfaatkan kembali.

Sementara itu Dr. IDG. Palguna, S.H., M.Hum. mengatakan pentingnya otonomi provinsi untuk mempercepat pembangunan. Otonomi provinsi akan memberi pelayanan yang baik, cepat dan efisien. Apalagi Bali kecil sehingga lebih mudah dan cepat dijangkau. Ia juga memaparkan pentingnya menerapkan konsep Tri Mandala dalam menjaga Bali.

Budayawan Drs. Putu Suasta,M.A. mengatakan perlu berjuang bersama-sama untuk membangun Bali yang lebih baik. “Bali ini menarik dengan pariwisatanya. Jadi harus pula dikelola dengan baik. Sebab kalau kita tidak siap bisa seperti kapur barus, kapurnya menipis, lama-lama hilang dan baunya juga akan hilang,” ujar master jebolan Cornell University ini.

Ia juga mengingatkan untuk mencapai kemajuan maka penegakan hukum harus tegas dan Bali perlu punya pemimpin hebat. Dengan pemimpin yang hebat akan bisa menyelesaikan masalah yang ada. Jangan pilih pemimpin yang menang ‘mekise’.

Pakar Konservasi I Ketut Putra Sarjana mengaku prihatin dengan kondisi lingkungan Bali yang mengalami banyak kerusakan. “Mata air banyak yang hilang, Ada sekitar 30 ribu hektare hutan yang perlu direhabilitasi untuk menjaga ketersediaan air dan budaya,” ujarnya. (bas)

Berikan Komentar