Pariwisata & Budaya

Menghadapi Keprihatinan dan Harapan: Membangun Pariwisata Bali Pasca Pandemi

Trend pariwisata semakin naik, ternyata kita dibuat kebingungan atas segala kesemrawutan atas perkembangan tersebut. Kondisi ini merupakan refleksi konkret atas kepariwisataan yang tidak terkelola dengan maksimal.

(Dutabalinews.com), Tanpa terasa kegalauan dan sekaligus keprihatinan kıta: bagaimana kita mengatur strategi dan kekuatan bersama agar penerbangan mulai dibuka secara perlahan setelah pandemi Covid 19 mereda. Kita telah bersama “ngrombo” dengan rapat bersama mencari solusi, berkomunikasi dengan eksekutif, legislatif dan “stake holders” pariwisata, dan sebagainya.

Tidak cukup di situ. Kita pun melakukan persembahyangan bersama di Pura Agung Besakih. Kita melakukan kegiatan spiritualitas tersebut agar dikarunia jalan terang menghadapi goncangan kehendak alam yang tidak berdaya kita bendung.

Dengan puja dan puji, patut kita bersyukur kepada Ida Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, kita masih diberi kesehatan melewati “berebeh agung” tersebut. Kita yakın beberapa sahabat, kolega dan bahkan saudara kita telah berpulang karena terkena pandemi Covid 19.

Namun, kita masih diberi kekuatan dan masih dapat menikmati hidup dan kehidupan ini, secara moral telah sepatutnya kita dapat saling memberi spirit, penguatan, dan bahkan saling mengingatkan, menjaga dan sekaligus merawat dan meruwat Bali agar lebih baik ke depan.

Ada kalanya harapan baik tidak semudah yang kita hadapi. Impian pun tidak semudah yang kita bayangkan. Setelah kita melewati masa-masa keprihatinan dan ketidakpastian tidak kurang 2,5 tahun, selanjutnya perekonomian dan pariwisata ditandai dengan kunjungan wisatawan kembali normal. Bahkan manakala trend semakin naik, ternyata kita dibuat kebingungan atas segala kesemrawutan atas perkembangan tersebut. Kondisi ini merupakan refleksi konkret atas kepariwisataan yang tidak terkelola dengan maksimal. Tata kelola dan tata niaga pariwisata tidak ter koordinasi dalam sebuah system inklusif yang melibatkan semua stake holder dan Masyarakat Bali.

Semua dimulai dan berjalan seperti air bah di saat situasi belum siap dihadapi, yang telah menghantam apa saja: dampak sosial, ekonomi, budaya, alam dan lingkungan Bali, termasuk nilai-nilai sakral pun telah diterjang oleh ketidak jelasan kepariwisataan dimaksud diperburuk dengan kecepatan media sosial Tanpa pemilahan pemberitaan. Dengan adanya kondisi semacam itu, jika ada anggapan masyarakat yang menyatakan bahwa “Bali tidak baik baik saja“ tentu tidak dapat ditolak.

Baca Juga :   ​Pemotongan Janur dan Pemukulan Gong Tandai 'Rebranding' Swarga Suites Bali, sebagai Detak Jantung di Canggu  

Dalam kondisi seperti itu, dapat kita maknai dengan “wise” agar kita tidak kehilangan spirit, semangat untuk terus berbenah.

Tanpa terasa kegalauan dan keprihatinan kıta: bagaimana kita melewati pandemi mengatur strategi dan kekuatan bersama agar penerbangan mulai dibuka secara perlahan setelah pandemi mereda. Dengan semangat “ngrombo”, beberapa kali kita rapat bersama untuk mencari solusi, berkomunikasi dengan eksekutif, legislatif dan “stake holders” pariwisata, dan sebagainya. Tidak cukup di situ. Kita pun melakukan persembahyangan bersama di Pura Agung Besakih.

Kita melakukan kegiatan spiritualitas tersebut agar dikarunia jalan terang menghadapi goncangan kehendak alam yang tidak berdaya kita bendung.

Ada kalanya kondisi baik tidak semudah yg kita harapkan. Impian pun tidak semudah yang kita bayangkan hari ini. Setelah kita lewati masa-masa keprihatinan dan keridakpastuan tidak kurang 2,5 tahun, selanjutnya perekonomian dan pariwisata ditandai dengan kunjungan wisatawan kembali normal dan bahkan trend semakin naik, ternyata kita dibuat penuh kebingungan atas segala kegaduhan, kesemrawutan perkembangan yang banyak dikeluhkan ; keamanan, persaingan bisnis, kecepatan pembangunan, kontrol pengawasan Thd WNA dst, Kondisi ini merupakan refleksi konkret atas kepariwisataan yang tidak terkelola dengan maksimal . Tata kelola dan tata niaga pariwisata benar-benar berada dalam kegamangan. Semua berjalan seperti air bah yang telah menghamtam apa saja: dampak sosial, ekonomi, budaya, alam dan lingkungan Bali, termasuk nilai-nilai sakral telah diterjang oleh kesemrawutan kepariwisataan dimaksud. Adanya kondisi semacam itu, jika ada anggapan masyarakat yang menyatakan bahwa “Bali tidak baik baik saja“ tentu tidak dapat ditolak.

Dalam kondisi seperti itu, dapat kita maknai dengan “wise” agar kita tidak kehilangan spirit, semangat untuk memperjuangkan kondisi yang lebih baik. Mengingat kondisi faktual tidak sepenuhnya dirasakan pelaku usaha pariwisata meski perkembangan dan. Pertumbuhan pariwisata telah menyamai sebagaimana sebelum kondisi pandemi Covid 19, yakni tumbuh di atas rata rata nasional. Bali tumbuh sekitar 6%.

Mencermati semua ketidakbaikan Bali belakangan ini, kita patut terus menjaga dan meningkatkan soliditas, solaridaritas dan bersinergi dengan pemangku kebijakan, baik pemerintah daerah dengan “stake holders” pariwisata, dunia kampus, komponen masyarakat dan pemerintah pusat untuk lebih serius mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi Bali. Penggembangan pariwisata Bali hendaknya tidak menyimpang dari rel pengembangan pariwisata budaya Bali yang berkelanjutan yang berlandaskan konsepsi Tri Hita Karana yang dijiwai oleh agama Hindu.

Baca Juga :   FSBJ II Libatkan Seribu Seniman dan Pekerja Seni

Mengembalikan ke konsep tersebut tidaklah mudah. Namun, bila landasan utama adalah untuk menjaga, melestarikan adat, budaya, dan lingkungan alam Bali, maka kembali ke “roh” terrsebut merupakan prasyarat yang tidak dapat dihindari.

Untuk merawat dan meruwat Bali sehingga “taksu Bali” tetap terjaga, maka kiita harus dengan sadar mengembalikan pada konsepsi pembangunan Bali sebagaimana dimaksud di atas, karena tanggung jawab beban atas kemajuan pariwisata Bali maka unsur ekonomi Masyarakat Bali menjadi tanggung jawab salam tata kelola Pariwisata ke depan dengan menyelaraskan Perundangan dan Kebijakan Publik terkait dengan tanggung jawab terhadap kelanjutan Budaya dan pelaksanaan Tri Hita Karana dalam tatanan sebuah keseimbangan antara kemajuan Pariwisata Bali dan Kesejahteraan Masyarakat Bali.
Dengan demikian, Bali yang telah dipersepsikan “Bali tidak baik baik saja” cepat berlalu dan berubah menjadi; BALI BAIK BAIK SAJA

Berikan Komentar