Evocations Satukan Perspektif Seniman Indonesia dan Swiss di ARMA Museum

(Dutabalinews.com), Seni selalu menjadi bagian penting dalam menyuarakan serta meningkatkan kesadaran terhadap berbagai isu yang terjadi di muka bumi. Dalam beberapa bulan terakhir, khususnya di penghujung tahun 2025, bencana alam menjadi potret nyata dari kerusakan lingkungan. Manusia yang hidup di planet bumi seolah merasakan perubahan kualitas alam, sementara di sisi lain perkembangan kesadaran manusia justru timpang dan belum mampu mengimbanginya dengan baik.

Kolaborasi seniman muda Bali (Indonesia) dan Basel (Swiss), Damar Langit Timur dan Laurence Spicher, berupaya menggugah kesadaran tersebut melalui sebuah pameran lukisan bertajuk “Evocations”. Karya-karya dari masing-masing seniman didasari oleh pengalaman, pengamatan, serta kedekatan—baik secara kasat mata maupun batin—terhadap alam dan realitas yang mereka hadapi.

Baik Damar maupun Laurence memiliki pengalaman masa lalu yang kuat dari tempat asal mereka masing-masing. Keduanya telah bereksplorasi melalui pendekatan kultural yang mendalam dengan melibatkan spirit yang menjadi dasar kepercayaan mereka. Damar dan Laurence berupaya menarik diri lebih dalam, meresapi berbagai kegelisahan yang ada, lalu mengartikulasikannya kembali untuk menyoroti apa yang telah dan sedang terjadi.

Menurut Yudha Bantono selaku kurator pameran, salah satu kekuatan utama kedua seniman dalam proyek kolaborasi Evocations adalah kemampuan mereka membangkitkan emosi sekaligus memancing pemikiran. Mereka memanfaatkan potensi diri dengan penuh kesadaran untuk menciptakan karya-karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga bermuatan emosional dan membangkitkan kesadaran akan kedekatan manusia dengan alam. Lebih lanjut, Yudha menyampaikan bahwa tanpa disadari, perjalanan kreatif Damar dan Laurence menjadi potret sekaligus cermin yang merefleksikan kondisi masa kini dan masa mendatang.

Menurut Yudha, Damar Langit Timur memiliki kedekatan kuat dengan masa lalunya sejak tumbuh dan berkembang. Ia mengambil inisiatif untuk menempatkan mitos, simbol, serta filosofi ajaran dan pengetahuan luhur tradisi Bali sebagai kekuatan utama dalam menarasikan karyanya sekaligus menyampaikan pesan. Karya-karya seni Damar merupakan percakapan antara dirinya dan semesta, antara realitas dan kebangkitan jiwa.

Bagi Damar, ikon dan simbol mitologi yang ia yakini telah lama bersemayam dalam pikiran dan jiwanya, bahkan melekat sebagai bagian penting dalam membangun berbagai aspek kehidupannya, khususnya dalam gagasan berkarya. Ia dengan mudah meletakkan unsur-unsur tersebut sebagai manifestasi untuk berbicara tentang spirit alam, termasuk flora dan fauna, sebagai pesan yang kuat.

Baca Juga :  Cegah Kebocoran, Rai Wirajaya Dorong Implementasi Elektronifikasi Keuangan Daerah Makin Diperluas

Damar sesungguhnya memiliki semangat besar dalam membaca narasi, pesan, serta bentuk-bentuk yang dimiliki oleh tradisi luhur, terutama seni rupa tradisi Bali. Semangat ini menjadi modal dasar dalam memahami realitas yang telah melampaui kehidupan tradisional ketika ia berada dalam konteks kehidupan modern saat ini.

Sementara itu, Laurence Spicher menghadirkan seri karya bertajuk “Gunung”. Bagi Laurence, gunung sebagai bagian dari alam bukan hanya dinikmati karena keindahannya, tetapi juga memiliki nilai dan spirit. Ia telah mengamati serta menghadirkan pengalaman dan pengetahuan hidupnya yang dekat dengan gunung. Meskipun tidak lahir di daerah pegunungan, hampir separuh hidupnya dihabiskan di Lembah Maggia, di kaki Pegunungan Alpen.

Laurence merasa beruntung dapat tinggal dan berkarya di studionya di Valley Maggia, tempat ia diperkaya oleh berbagai pengalaman tak terduga yang berkaitan dengan alam sekitar. Semua itu menghadirkan vibrasi sekaligus menjadi sumber inspirasi. Suara air yang mengalir di atas bebatuan, udara segar pegunungan, pepohonan hutan yang rimbun, serta keramahan masyarakat setempat menjadi magnet yang selalu menarik dirinya untuk semakin merindukan dan mendekat pada alam.

Pesona dan energi gunung menyentuh jiwanya semakin dalam. Kekaguman di setiap perjumpaan dengan gunung-gunung menjadi memori kuat yang sulit dilupakan. Cahaya, warna, angin, kabut, salju, dan awan yang silih berganti seolah berdialog dengannya. Pengalaman ini tidak hanya ia rasakan di Swiss, tetapi juga di Bali. Dalam setiap perjumpaannya dengan Gunung Agung dan Gunung Batukaru, Laurence merasakan hal yang serupa. Bahkan, ia mengungkapkan bahwa gunung-gunung di Bali dengan vegetasi tropis menghadirkan warna-warna yang indah, ditambah dengan cahaya matahari yang hampir selalu hadir kecuali pada musim hujan.

Dalam kunjungannya yang kerap ke Bali, Laurence memperoleh pemahaman mendalam tentang warna-warna tropis alam yang semakin diperkaya oleh kehadiran tradisi budaya Bali. Ia menaruh hormat pada cara masyarakat Bali menempatkan alam sebagai bagian penting dari spiritualitas kehidupan, yang dijalani dengan ketulusan dalam menjaga dan menghormatinya.

Agung Yudi selaku Direktur Museum ARMA memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya pameran Evocations. Menurut pria yang akrab disapa Gung Yudi, pameran ini merupakan pameran pertama yang menghadirkan kolaborasi seniman muda lintas benua dan budaya. Pameran ini dinilai penting bagi keberlanjutan dialog antara Barat dan Timur yang telah terjalin lama, khususnya antara Bali dan Basel, Swiss.

Baca Juga :  Menteri PKP Maruarar Sirait Tinjau Program Perumahan Bersubsidi di Buleleng

Pameran Evocations menjadi bagian dari percakapan seni yang menarik sekaligus berperan sebagai katalisator dialog. Pameran ini menyediakan platform bagi seniman Indonesia dan Swiss untuk bertemu, berbagi ide, berdialog, berkolaborasi, serta terlibat dalam diskusi mengenai relasi antara manusia dan alam, dengan tujuan membangkitkan kesadaran demi kehidupan yang lebih baik di bumi. Pameran Evocations dibuka hari ini, 24 Desember 2025, di Museum ARMA dan akan berlangsung selama satu bulan hingga 24 Januari 2026.