MoU Melali Bali Group dan BMTA: Perkuat Daya Saing Medical & Wellness Tourism Bali
(Dutabalinews.com), Secara global, medical dan wellness tourism merupakan salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam industri perjalanan. Berbagai laporan internasional menunjukkan nilai pasar global medical tourism telah melampaui ratusan miliar dolar Amerika, dengan tingkat pertumbuhan tahunan yang konsisten, seiring meningkatnya kebutuhan akan layanan kesehatan berkualitas, efisiensi biaya serta akses terhadap perawatan yang lebih personal dan holistik. Demikian antara lain mengemuka pada acara Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Melali Bali Group dan Bali Medical Tourism Association (BMTA) pada Sabtu (24/1) bertempat di The Lotus Building Jalan I Gusti Ngurah Rai 888 Denpasar.
MoU dalam upaya membangun dan memperkuat ekosistem medical dan wellness tourism di Bali. “Kerja sama yang kita resmikan hari ini bukanlah kerja sama biasa, dan tidak pula bersifat simbolik semata. MoU ini merupakan fondasi strategis untuk membangun sinergi jangka panjang antara sektor kesehatan dan sektor pariwisata—dua sektor yang kini semakin saling terkait dalam menjawab kebutuhan global akan kesehatan, pemulihan, dan kualitas hidup,” ujar Direktur Melali Bali Group, Dr. Ketut Jaman dalam sambutannya.
Kerja sama ini melibatkan sejumlah fasilitas layanan kesehatan, antara lain Sada Jiwa Healthcare, Bali Royal Hospital, Prima Medica Hospital, Unicare Clinic, dan Bhakti Rahayu, serta Ngoerah Sun Wellness and Aesthetic Center di Denpasar, yang akan berperan dalam penyediaan layanan medis dan wellness bagi wisatawan.
Menurut Jaman, dalam konteks global saat ini, medical & wellness tourism telah berkembang dari sekadar perjalanan untuk berobat, menjadi sebuah perjalanan kesehatan yang holistik—yang mencakup pencegahan, perawatan, pemulihan hingga peningkatan kualitas hidup secara berkelanjutan. “Inilah konteks besar yang menjadi latar belakang kerja sama antara Melali Bali Group dan BMTA,” jelasnya.
Sementara wellness tourism secara global tumbuh lebih cepat dibandingkan pariwisata konvensional, didorong oleh perubahan gaya hidup masyarakat dunia yang semakin menempatkan kesehatan, pencegahan penyakit, dan kualitas hidup sebagai prioritas utama. “Pasar ini tidak hanya didominasi oleh wisatawan sakit, tetapi juga oleh individu sehat yang secara proaktif mencari program longevity, preventive care, stress management, dan healthy aging,” ungkap Jaman.

Data global juga menunjukkan wisatawan medical dan wellness memiliki lama tinggal yang lebih panjang dan pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan wisatawan leisure pada umumnya. Hal ini menjadikan sektor ini sebagai high-value tourism segment yang sangat relevan dengan arah kebijakan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Lebih penting lagi, lanjut Jaman tren global memperlihatkan pergeseran dari model single medical procedure menuju continuum of care, di mana pasien tidak hanya datang untuk tindakan medis, tetapi juga untuk proses pemulihan, peningkatan kualitas hidup, dan perubahan gaya hidup jangka panjang. “Inilah ruang strategis di mana Bali memiliki keunggulan kompetitif yang kuat. Dengan lanskap global seperti ini, kerja sama antara Melali Bali Group dan BMTA kami pandang sebagai langkah yang tepat waktu dan relevan, untuk memastikan Bali tidak hanya menjadi tujuan, tetapi juga bagian dari solusi global dalam layanan kesehatan dan wellness,” tegasnya.
Kerja sama ini memiliki tujuan utama membangun ekosistem paket wisata medical wellness yang terintegrasi, di mana seluruh patient and guest journey dirancang secara menyeluruh—mulai dari pra-kedatangan, layanan medis dan wellness, masa pemulihan, hingga post-treatment follow-up. Pihaknya ingin memastikan setiap paket medical wellness yang dikembangkan berangkat dari kebutuhan medis yang jelas dan terverifikasi, didukung oleh fasilitas kesehatan yang profesional, aman, dan beretika, diperkaya dengan program wellness berbasis alam, budaya, dan kearifan lokal Bali serta dikemas dalam layanan pariwisata yang nyaman, terstruktur, dan terpercaya.
Dengan pendekatan ini, medical tourism dan wellness tourism tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi—from treatment to transformation. Dikatakan, Bali memiliki posisi yang sangat unik dalam peta global medical & wellness tourism. Selain memiliki fasilitas medis yang terus berkembang dan tenaga kesehatan yang kompeten, Bali juga dikenal dunia sebagai healing destination—sebuah tempat di mana proses penyembuhan tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga emosional dan spiritual.
Dari sisi penetrasi dan pengembangan pasar, kerja sama ini diarahkan untuk menjangkau segmen-segmen strategis, antara lain wisatawan internasional yang mencari layanan medis berkualitas dengan pendekatan pemulihan yang holistik, segmen senior dan aging population yang membutuhkan layanan preventive care, longevity program, dan rehabilitative care, pasien pasca-tindakan medis yang memerlukan recovery program dalam lingkungan yang aman, tenang, dan mendukung penyembuhan serta pasar domestik premium yang semakin sadar akan pentingnya preventive wellness, healthy aging, dan quality of life.
Pihaknya berkomitmen untuk membangun paket medical wellness yang memiliki struktur produk yang jelas, sistem rujukan dan layanan yang terkoordinasi serta strategi pemasaran yang bertanggung jawab, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepercayaan.
Lebih jauh lagi, kolaborasi ini juga merupakan bentuk dukungan konkret terhadap agenda nasional, khususnya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam memperkuat layanan kesehatan nasional, mendorong pengembangan medical tourism, serta meningkatkan daya saing fasilitas kesehatan Indonesia di tingkat internasional dan
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dalam mengembangkan pariwisata berkualitas, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi, yang berfokus pada kualitas pengalaman dan dampak jangka panjang.
“Melalui MoU ini, kami berharap kolaborasi antara Melali Bali Group dan BMTA dapat menjadi model kemitraan medical & wellness tourism yang profesional, inklusif, dan berkelanjutan. Sebuah kolaborasi yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pada keselamatan pasien, kualitas layanan, dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Bali dan Indonesia,” pungkasnya.
Jaman optimis jika mampu mengelola potensi ini secara kolaboratif, terstandarisasi, dan bertanggung jawab, maka medical & wellness tourism tidak hanya akan menjadi produk baru, tetapi dapat berkembang menjadi pilar strategis ekonomi Bali dan Indonesia —yang memberikan nilai tambah tinggi, stabilitas jangka panjang, serta reputasi global yang positif.
Ia berharap kerja sama ini dapat terus berkembang, adaptif terhadap dinamika global dan membawa Bali menuju posisi yang lebih kuat sebagai destinasi medical & wellness tourism unggulan di Asia dan dunia.
Sementara itu Ketua BMTA, dr. I Gede Wiryana Patra Jaya, M. Kes, menegaskan pentingnya kolaborasi antara sektor kesehatan dan pariwisata dalam pengembangan medical tourism. Menurutnya. Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk menghadirkan layanan yang aman, beretika, dan sesuai standar, sekaligus meningkatkan daya saing Bali di tingkat nasional maupun internasional.
Dari sisi pasar, paket wisata medical dan wellness ini menyasar wisatawan mancanegara, segmen senior dan aging population, pasien pasca-tindakan medis, serta pasar domestik premium yang memiliki tingkat kesadaran tinggi terhadap kesehatan dan kualitas hidup.
Dalam implementasinya, Melali Bali Group bersama BMTA mengembangkan paket wisata kesehatan yang dirancang secara terstruktur dan terintegrasi, dengan durasi tinggal di Bali antara 7 hingga 21 hari. Paket ini mencakup layanan penjemputan wisatawan di bandara, penyediaan akomodasi di berbagai kawasan wisata unggulan di Bali, serta layanan transportasi lokal selama program berlangsung. Selain itu, paket tersebut juga meliputi layanan kesehatan di rumah sakit dan fasilitas medis mitra. (ist)
