Ekonomi & Bisnis

Diskusi dengan Pengurus Simantri, Dr. Mangku Pastika, M.M.: Mestinya Bali Tak Sampai Krisis Pangan

“Kalau saja potensi yang ada digerakkan semua, bersama-sama mestinya kita tak sampai mengalami krisis pangan,” ujar Anggota DPD RI Dapil Bali Dr. Made Mangku Pastika,M.M. saat bertatap muka dengan sejumlah pengurus Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi) di tempat pertemuan Kelompok Simantri Lukluk Badung, Rabu (18/10).

Pertemuan dengan agenda “Keberadaan Simantri dalam Menopang Ketahanan Pangan” yang dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara didampingi Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja dihadiri Pengurus Simantri dari Badung, Tabanan dan Singaraja.

Dalam pertemuan tersebut mengemuka kekhawatiran petani terkait terbatasnya pupuk organik untuk mengembalikan pemulihan lahan dari dampak negatif pupuk kimia serta merosotnya produksi pangan akibat kerusakan tanah dan alih fungsi lahan yang tinggi.

“Pupuk organik sangat diperlukan, sementara dukungan dari pemerintah daerah masih minim sehingga upaya meningkatkan produksi tidak maksimal,” ujar Dewa Putu Buda, Ketua Simantri 079 Kerambitan Tabanan, AAN Wijana dari Simantri 074 Kelating Tabanan dan Agung dari Buleleng.

Padahal tambah Dewa Buda, produksi pupuk organik dari kelompok Simantri. di Bali cukup besar. Namun hanya sebagian kecil yang dibeli pemerintah untuk membantu petani. Dengan pupuk organik, lahan menjadi bagus dan produksinya meningkat.

Mereka berharap, bantuan pupuk organik ke petani bisa ditingkatkan ke depannya. “Kalau bisa separo kebutuhan pupuk organik petani dibantu,” harap Wijana.

Menurut Mangku Pastika kalau mau mempertahankan lahan pertanian, maka pendapatan petani harus ditingkatkan. “Harus ada jaminan bahwa bertani itu menguntungkan dan memberi harapan masa depan. Kalau tak memberi harapan, jelas anak muda gak mau bertani,” tegas Gubernur Bali 2008-2018 ini.

Akibatnya maka alih fungsi lahan akan semakin tak terbendung. Petani cenderung akan menjual tanahnya daripada telantar dan menanggung pajak yang terus meningkat. “Jadi harus ada gerakan untuk mendorong petani agar semangat dan ini perlu keberpihakan pemerintah. Petani jangan dilepas jalan sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :   PLN UID Bali Gelar Pelatihan “Business Model Canvas” bagi UMKM

Selain itu dengan lahan yang terbatas, kehadiran teknologi sudah menjadi kebutuhan. “Pertanian perlu didukung teknologi untuk produksi, pengolahan pascapanen termasuk pemasaran. Sebab akan tidak maksimal kalau produk banyak dan bagus tapi kurang pemasarannya,” ujar Mangku Pastika.

Petani mengatakan, dengan tingginya alih fungsi lahan akan mempengaruhi produksi secara keseluruhan. Kalau ini tak bisa dikendalikan, lambat laun pertanian akan tergerus dan ancaman kekurangan pangan tidak bisa dihindari. “Kami di Simantri tentu akan terus berupaya memberdayakan potensi yang ada,” jelas Dewa Buda.

Rekannya AA Wijana menambahkan pihaknya terus melakukan upaya dalam mengefektifkan penggunaan pupuk organik agar produksi semakin baik. Dengan teknologi temuannya ‘Bio Nano Silica Carbon’ yang diproses secara sederhana dengan merendam arang dalam eco enzyme mampu menghasilkan pupuk yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.

Di sisi lain Mangku Pastika memuji tetap tingginya semangat petani turut merawat bumi pertiwi ini dengan pertaniannya.
“Gagasan kita dulu ingin ikut merawat Bali agar tetap lestari dan bisa hidup dari bumi pertiwi ini melalui pertanian. Apalagi budaya kita budaya pertanian. Cuma gak bisa terus konvensional, maka saya bikin simantri. Jadi tidak asal gunakan teknologi yang ‘ugal-ugalan’ yang malah merusak bumi,” ujar Mangku Pastika.

Diakui saat ini perhatian terhadap simantri jauh berkurang sehingga banyak yang tidak jalan secara bagus. Mestinya apa yang menjadi kebutuhan orang banyak jadi perhatian dan prioritas. Apalagi pertanian ini bukan hanya hasil tapi ikut melestarikan bumi.

“Meski saya tak lagi maju (DPD RI), saya tetap komit ingin Bali ini maju, lestari dan petaninya sejahtera. Jadi saya akan turut melakukan apa yang bisa untuk petani dan bumi,” tambah Mangku Pastika. (bas)

Berikan Komentar