Covid-19 di Bali: Kinerja Kredit Melambat, Ekspor Menurun

(Dutabalinews.com),Di tengah pandemi Covid-19 ini, kinerja perbankan di Bali melambat. Pertumbuhan DPK melambat dari 9,4% (yoy) pada triwulan 1 2020 menjadi 4,15% (yoy) pada triwulan II (Mei) 2020. Struktur DPK Bali sendiri masih didominasi oleh tabungan (50,2%).

“Sejalan dengan itu, kinerja kredit juga melambat dari 7,12% (yoy) pada triwulan 1 2020 menjadi 3,60% (yoy) pada triwulan II (Mei) 2020,” ujar Kepala KPw Provinsi Bali Trisno Nugroho, Selasa (7/7) pada acara Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Bali dengan tema ”Reshaping Bali Economic Strategy After COVID-19”.

Tampil sebagai narasumber Prof. M. Firdaus, PhD (Guru Besar Ilmu Ekonomi FEM — IPB University) dengan topik Strategi Akselerasi Sektor Pertanian Bali dan Josua Pardede, Chief Economist PT. Bank Permata, Tbk dengan topik Reshaping Bali Economic Strategy After COVID-19.

Dijelaskan Trisno, kredit di Bali masih didominasi oleh kredit konsumsi (38,4%). Kualitas kredit masih terjaga meskipun sedikit memburuk dari 2,91% pada triwulan 1 2020 menjadi 3,00% pada triwulan II (Mei) 2020.

Kinerja ekonomi Bali pada triwulan 1 2020 mengalami kontraksi akibat pandemi Covid-19. Ekonomi Bali tercatat -1,14% (yoy) pada triwulan 1 2020, lebih rendah dibanding triwulan IV 2019 yang sebesar 5,51% (yoy). Angka ini juga lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama, sebesar 2,97% (yoy).

“Dari sisi permintaan, penurunan kinerja ekonomi Bali bersumber dari kontraksi ekspor luar negeri dan konsumsi pemerintah serta melambatnya konsumsi rumah tangga (RT). Kinerja investasi juga menunjukkan kontraksi sebagaimana triwulan sebelumnya,” jelas Trisno.

Trisno menambahkan dari sisi penawaran, kontraksi kinerja ekonomi Bali bersumber dari lapangan usaha (LU) utama Bali yaitu LU penyediaan akomodasi dan makan-minum (akmamin), LU pertanian, LU perdapanpan, LU konstruksi, dan LU transportasi. Adanya pandemi COVID-19 menekan kinerja LU akmamin, LU perdaganpan, serta LU transportasi.

“Selain itu, sejumlah proyek juga tertunda akibat protokol kesehatan physical distancing sehingga menekan kinerja LU konstruksi. Sementara itu, melambatnya sektor pertanian disebabkan oleh belum masuknya masa panen tanaman pangan (padi) pada triwulan 1 2020,” tambah Trisno.

Baca Juga :   Tinggi Penyalahgunaan Obat dan Bahan Pangan Berbahaya di Bali

Ekonomi Bali pada triwulan II 2020 diprakirakan terkontraksi semakin dalam dibandingkan triwulan sebelumnya. Prakiraan ini seiring kebijakan antisipasi penyebaran COVID-19 yang
semakin ketat dibanding triwulan sebelumnya. Kebijakan yang awalnya hanya menutup sementara penerbangan dari dan ke Tiongkok, kemudian berlanjut menjadi penutupan sementara Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai.

Selain itu, kebijakan protokol kesehatan juga diberlakukan secara tegas seperti penutupan seluruh tempat tujuan wisata, pasar, dan pusat keramaian terkait kebijakan pencegahan COVID-19 termasuk kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) oleh Pemerintah Kota Denpasar sejak Mei 2020.

Sementara itu, kinerja konsumsi triwulan II 2020 diprakirakan terkontraksi. Indeks Keyakinan Konsumen di Provinsi Bali pada bulan Mei masih mengalami penurunan dari bulan April lalu dan berada di level pesimis yang lebih dalam. Penurunan yang cukup dalam terutama untuk persepsi akan kondisi saat ini baik dalam hal jumlah penghasilan maupun ketersediaan lapangan kerja. Kredit konsumsi melambat dari 5,73% (yoy) pada tw 1 2020 menjadi 2,5% (yoy) di TW II (Apr-Mei) 2020.

Dari sisi fiskal, konsumsi pemerintah masih terbatas. Sampai dengan Mei 2020, realisasi APBD Kabupaten/Kota tercatat sebesar Rp5,03 triliun atau lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp6,24 triliun). Sementara itu, realisasi APBD Provinsi tercatat sebesar Rp2,19 triliun, atau lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp 1,6 triliun).

Kinerja ekspor diprakirakan mengalami kontraksi. Ekspor komoditas pada April 2020 tercatat -53,26% (yoy) atau terkontraksi lebih dalam dibandingkan dengan triwulan 1 2020 yang sebesar -8,15% (yoy). Kinerja investasi juga diprakirakan terkontraksi. Hal ini sebagaimana tercermin pada skala likert investasi responden yang tercatat sebesar -0,13 pada triwulan II 2020.

Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan kredit investasi juga melambat, dari 16,45% (yoy) pada triwulan 1 2020 menjadi 10,25% (yoy) pada triwulan II 2020. Dari sisi penawaran, hasil tracking menunjukkan penurunan kinerja lapangan usaha utama.

Sektor akomodasi makan minum (akmamin) terkontraksi seiring dengan kontraksi kunjungan wisman dan wisdom. Hal ini tercermin pada kontraksi jumlah kedatangan penumpang internasional periode 1 Jan 2020 s/d 2 Juli 2020 yang tercatat -62,67% (yoy). Demikian pula kontraksi kedatangan penumpang domestik periode 1 Jan 2020 s/d 2 Juli 2020 tercatat -55,67% (yoy).

Baca Juga :   Peduli Covid-19, BNI Salurkan Ratusan Paket Pangan

Kinerja sektor perdagangan menurun. Hasil SPE menunjukkan pertumbuhan total penjualan negatif pd TW II (Apr-Mei) 2020, menurun dibanding TW 1 2020. Pendaftaran kendaraan baru (Motor dan Mobil) juga tumbuh negatif pada TW I (Apri) 2020, menurun dibanding TW 1 2020.

Sektor pertanian diperkirakan masih tumbuh positif. Harga Gabah Kering Giling di tingkat petani tumbuh 11,24% (yoy), dan di tingkat penggilingan tumbuh 24,36%. Lapangan usaha konstruksi terkontraksi. Penjualan semen juga tumbuh negatif pada TW II (Apr) 2020, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya.

Inflasi Bali pada Juni 2020 tercatat sebesar 0,11 % (mtm) atau 2,18% (yoy). Inflasi tahunan Bali tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 1,96% (yoy). Berdasarkan disagregasinya, inflasi bulanan disebabkan oleh core inflation. Sementara volatile food dan administered price tercatat mengalami deflasi.

Sementara itu, tingkat kemiskinan di Bali dari waktu ke waktu menunjukkan penurunan Pada September 2019, tingkat kemiskinan di Bali sebesar 3,61%,menurun dibanding September 2018 yang sebesar 3,91%. Disisi lain, tingkat ketimpangan di Bali meningkat dari 0,364 pada September 2018 menjadi 0,370 pada September 2019.

Selanjutnya, berdasarkan survei terhadap rumah tangga di Bali pada bulan Mei lalu, 78% responden menyatakan mengalami penurunan. Besaran penurunan pendapatan mencapai lebih dari 50%.

Tingkat pengangguran Bali pada Februari 2020 sebesar 1,21%, sedikit meningkat dibanding Februari 2019 yang sebesar 1,19%. Dilihat dari lapangan usahanya, 19,4% pekerja di Bali bekerja disektor perdagangan dan 18,8% bekerja di sektor pertanian. Sementara itu, pangsa pekerja yg bekerja di lapangan usaha akmamin sebesar 13,1%. Tingkat pengangguran di bulan Agustus 2020 diperkirakan berpotensi meningkat seiring berlangsungnya pandemi COVID-19. Kami memperkirakan tingkat pengangguran dapat mencapai 3,45% apabila tidak ada kebijakan intervensi.

“Secara keseluruhan tahun 2020, kami memprediksikan perekonomian Bali akan terkontraksi. Hal ini tidak lepas dari perkiraan terkontraksinya wisman pada tahun 2020 (- 49% pada skenario moderat sampai dengan -82% pada skenario Severe).

Ketergantungan perekonomian Bali pada sektor pariwisata merupakan salah satu sumber kerentanan perekonomian Bali. Secara historis, penurunan wisman tercatat berdampak langsung dan signifikan terhadap perekonomian Bali

Baca Juga :   Peduli Wabah Corona, Perbankan di Bali Serahkan Bantuan ke RS Sanglah

Struktur perekonomian Bali selama 10 tahun terakhir didominasi oleh sektor tersier, dengan Share yang semakin meningkat. Sementara itU, Share sektor primer (pertanian, pertambangan) tercatat mengalami penurunan. Penurunan sektor primer tidak lepas dari semakin rendahnya kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Bali.

Secara historis, selama 10 tahun terakhir, perekonomian Bali tercatat masih berada di bawah output potentialnya. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ke depan masih dapat dioptimalkan. Pandemi COVID-19 telah merubah landscape perekonomian secara global. Momen ini merupakan momen yang tepat untuk menyusun kembali strategi perekonomian Bali. (ist)

Mungkin Anda Menyukai

Berikan Komentar